Translate

Senarai Blog Saya

Selasa, 31 Ogos 2010

Siapakah Iman Mahdi a.s. Itu? (Bhg 3)

Kisah Kelahiran

Kisah kelahiran orang-orang besar selalu menyimpan rahasia dan misteri tersendiri. Betapa banyak peristiwa yang terjadi pada saat seorang agung lahir yang sungguh di luar kemampuan akal kepala kita untuk memahami dan “mempercayaninya”. Tapi, hal itu bukanlah seuatu hal yang aneh jika dikaitkan dengan kehendak Ilahi. Karena selama suatu peristiwa masih bersifat mungkin, bukan mustahil, hal itu masih berada di bawah ruang lingkup kehendak Ilahi meskipun termasuk kategori sesuatu yang aneh menurut akal kita.
Kisah kelahiran Imam Mahdi as adalah salah atu dari sekian kisah aneh (baca: ajaib) yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia. Mari kita simak bersama.
Sayidah Hakimah binti Imam Muhammad al-Jawad as bercerita:
Abu Muhammad Hasan bin Ali (al-‘Askari) datang ke rumahku seraya berkata: “Wahai bibiku, berbuka puasalah di rumah kami malam ini. Malam ini adalah malam nishfu Sya’ban. Allah Ta’ala akan menampakkan hujjah-Nya di atas bumi pada malam ini.” “Siapakah ibunya?”, tanyaku “Narjis”, jawabnya singkat. “Sepertinya ia tidak memiliki tanda-tanda kehamilan?”, tanyaku lagi. “Hal itu akan terjadi seperti yang telah kukatakan”, katanya menimpali.
Setelah sampai di rumahnya, kuucapkan salam dan duduk. Tidak lama Narjis datang menemuiku untuk melepaskan sandalku seraya berkata: “Wahai junjunganku, izinkanlah kulepaskan sandal Anda.” “Tidak! Engkaulah junjunganku. Demi Allah, aku tidak akan mengizinkan engkau melepaskan sandalku dan berkhidmat kepadaku. Seharusnya akulah yang harus berkhidmat kepadamu”, tegasku. Abu Muhammad mendengar ucapanku itu. Ia berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai bibiku.”
Kukatakan kepada Narjis: “Pada malam ini Allah akan menganugrahkan kepadamu seorang putra yang akan menjadikan junjungan di dunia dan akhirat.” Ia duduk sambil menahan malu.
Setelah selesai mengerjakan shalat Isya`, aku berbuka puasa dan setelah itu, pergi ke tempat tidur. Ketika pertengahan malam tiba, aku bangun untuk mengerjakan shalat. Setelah aku selesai mengerjakan shalat, Narjis masih tertidur pulas dan tidak ada kejadian khusus terhadap dirinya. Akhirnya aku duduk-duduk sambil membaca wirid. Setelah itu, aku terbaring hingga tertidur pulas. Tidak lama kemudian, aku terbangun dalam keadaan tertegun, sedangkan ia masih tertidur pulas. Tidak lama berselang, ia terbangun dari tidurnya dalam keadaan ketakutan. Ia keluar untuk berwudhu. Ia kembali ke kamar dan mengerjakan shalat. Ketika ia sedang mengerjakan rakaat witir, aku merasa bahwa fajar sudah mulai menyingsing. Aku keluar untuk melihat fajar. Ya, fajar pertama telah menyingsing. (Melihat tidak ada tanda-tanda ia akan melahirkan), keraguan terhadap janji Abu Muhammad mulai merasuki kalbuku. Tiba-tiba Abu Muhammad menegorku dari kamarnya: “Janganlah terburu-buru wahai bibiku. Karena janji itu telah dekat.” Aku merasa malu kepadanya atas keraguan yang telah menghantuiku. Di saat aku sedang kembali ke kamar, Narjis telah selesai mengerjakan shalat. Ia keluar dari kamar dalam keadaan ketakutan, dan aku menjumpainya di ambang pintu. “Apakah engkau merasakan sesuatu?”, tanyaku. “Ya, bibiku. Aku merasakan berat sekali”, jawabnya. “Ingatlah Allah selalu. Konsentrasikan pikiranmu. Hal itu seperti yang telah kukatakan padamu. Engkau tidak perlu takut”, kataku menguatkannya.
Lalu, aku mengambil sebuah bantal dan kuletakkannya di tengah-tengah kamar. Kududukkannya di atasnya dan aku duduk di hadapannya layaknya seorang wanita yang sedang menangani seseorang yang ingin melahirkan. Ia memegang telapak tanganku dan menekannya sekuat tenaga. Ia menjerit karena kesakitan dan membaca dua kalimat syahadah. Abu Muhammad berkata dari balik kamar: “Bacalah surah al-Qadr untuknya.” Aku mulai membacanya dan bayi yang masih berada di dalam perut itu menirukan bacaanku. Aku ketakutan terhadap apa yang kudengar. Abu Muhammad berkata lagi: “Janganlah merasa heran terhadap urusan Allah. Sesungguhnya Allah membuat kami berbicara dengan hikmah pada waktu kami masih kecil dan menjadikan kami hujjah di atas bumi-Nya ketika kami sudah besar.”
Belum selesai ucapannya, tirai cahaya menutupiku untuk dapat melihatnya. Aku berlari menuju Abu Muhammad sambil menjerit. “Kembalilah wahai bibiku. Engkau akan mendapatkannya masih di tempatnya”, katanya padaku.
Aku kembali. Tidak lama kemudian, tirai cahaya itu tersingkap. Tiba-tiba aku melihatnya dengan seunggun cahaya yang menyilaukan mataku. Kulihat wali Allah dalam kondisi sujud. Di lengan kanannya tertulis: “Telah datang kebenaran dan sirna kebatilan. Sesungguhnya kebatilan telah sirna”. Ia berkata dalam keadaan sujud: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, kakekku Muhammad adalah Rasulullah, dan ayahku Amirul Mukminin wali Allah.” Selanjutnya ia menyebutkan nama para imam satu-persatu hingga sampai pada dirinya. Kemudian, ia berdoa: “Ya Allah, wujudkanlah untukku apa yang telah Kau janjikan padaku, sempurnakanlah urusanku, kokohkanlah langkahku, dan penuhilah bumi ini karenaku dengan keadilan.” Setelah itu, ia mengangkat kepalanya seraya membaca ayat, “Allah bersaksi dalam keadaan menegakkan keadilan bahwa tiada tuhan selain Ia, dan begitu juga para malaikat dan orag-orang yang diberi ilmu. Tiada tuhan selian Ia yang Maha Perkasa nan Bijaksana. Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. (QS. Ali ‘Imran : 18-19) Kemudian, ia bersin. Ia berkata: “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah mencurahkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Orang-orang zalim menyangka bahwa hujjah Allah telah sirna.”
Aku menggendongnya dan mendudukknnya di pangkuanku. Sungguh anak yang bersih dan suci. Abu Muhammad berkata: “Bawalah putraku kemari wahai bibiku.” Aku membawanya kepadanya. Ia menggendongnya seraya memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya dan mengelus-elus kepala, kedua mata, telinga dan seluruh sikunya. Lalu, ia berkata kepadanya: “Berbicaralah wahai putraku.” Ia membaca dua kalimat syahadah dan mengucapkan shalawat untuk Rasulullah dan para imam satu-persatu. Setelah sampai di nama ayahnya ia diam sejenak. Ia memohon perlindungan dari setan yang terkutuk seraya membaca ayat: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan Kami akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, menjadikan mereka para pemimpin dan para pewaris. Dan Kami akan menjayakan mereka di muka bumi dan memperlihatkan kepada Fir’aun, Haman dan bala tentara mereka apa yang mereka takutkan.”
Setelah itu, Abu Muhammad memberikannya kepadaku kembali seraya berkata: “Wahai bibiku, kembalikanlah kepada ibundanya supaya ia berbahagia dan tidak susah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Akan tetapi, mayoritas umat manusia tidak mengetahui.”
Kukembalikan ia kepada ibunya dan fajar telang menyingsing waktu itu. Setelah mengerjakan shalat Shubuh, aku mohon pamit kepadanya. [12]
BERSAMBUNG 
(IMAMALMAHDI.COM)

Sejarah Yang Hilang : Kenali Pejuangan Dato' Bahaman.





Asal


Abdul Rahman bin Tuanku Imam Nuh, lebih dikenali sebagai Dato’ Bahaman ialah orang besar yang menentang penjajahan Inggeris di Semantan, daerah kekuasaannya di Pahang, Tanah Melayu.

Bapa Dato’ Bahaman ialah Tuanku Imam Nuh yang berasal dari Bangkinang, Kampar, Riau. Ibunya pula ialah Rokiah Abdul Rahman, anak perempuan Tok Setia Perkasa Semantan yang berketurunan Bugis dari Sulawesi Selatan. Walaupun beliau dilahirkan di Rantau Panjang iaitu sebuah kampung di daerah Bentong, beliau banyak menghabiskan masa di Pekan kerana berkhidmat dengan Bendahara Ali iaitu ayahanda kepada Sultan Ahmad.


Dato’ Bahaman juga dikatakan pernah menjadi anak angkat kepada Bendahara Ali dan menjadi rakan sepermainan kepada Sultan Ahmad ketika mudanya. Apabila Sultan Ahmad menaiki takhta, Dato’ Bahaman terus menabur bakti kepada tanah airnya.

Dato’ Bahaman telah diangkat sebagai salah seorang Orang Besar Berlapan dan dianugerahkan dengan gelaran Dato’ Setia Perkasa Pahlawan Semantan kerana kerana beliau telah menunjukkan sikap serta kebolehannya sebagai panglima dalam perang saudara antara Sultan Ahmad dan adinda baginda Wan Mutahir serta memimpin pasukan Pahang untuk membantu Tengku Kudin dalam perang Saudara di Klang, Selangor. Selepas kematian Orang Kaya Indera Segara, Dato’ Bahaman telah dilantik oleh Sultan Ahmad sebagai Orang Kaya Temerloh. Dengan pangkat tersebut, kedudukan Dato’ Bahaman adalah sedarjat dengan Orang Besar Berempat dan seringkali diajak berunding oleh baginda Sultan Ahmad.

Seorang yang pandai bersilat dan mempunyai ilmu kebal, kelebihan ini telah menyebabkan Dato’ Bahaman digelarkan ‘Seman Tahan’ oleh penduduk di sekitar kawasan itu sehingga sungai yang tidak bernama ketika itu diberi nama Sungai Seman Tahan dan seterusnya menjadi tempat persinggahan Inggeris. Beliau tidak mengiktiraf pemerintahan Inggeris diPahang sejak awal lagi dan mencetuskan kebangkitan di Pahang.


Awal penentangan

Segala-galanya bermula pada Oktober 1888 apabila British melantik JP Rodger sebagai Residen Pahang. Pihak Inggeris sememangnya sudah lama mengintai peluang untuk menjajah Pahang dan peluang mereka terbuka apabila mengetahui Sultan Pahang bermusuhan dengan dengan adindanya, Wan Mansur. Rancangan Wan Mansur untuk menyerang Sultan Ahmad diketahui British dan bangsa asing itu mengambil kesempatan untuk berbudi kepada Sultan Ahmad dengan mematahkan cubaan serangan itu.

Melihat seolah-olah Sultan Ahmad sudah termakan dengan budi yang ditabur mereka, British mengutuskan Hugh Clifford untuk memujuk Sultan supaya menerima seorang residen untuk membantu baginda memerintah Pahang. British sebenarnya memasang helah untuk menjajah Pahang bagi membolehkan mereka memungut hasil bumi yang banyak di negeri itu. Pihak British seterusnya memujuk Sultan Ahmad bagi membolehkan pihak Inggeris campurtangan di dalam pemerintahan Pahang kerana mahukan hasil bumi Pahang seperti balak, bijih timah, getah, gading, rotan, emas dan padi.

Untuk menangani masalah campurtangan pihak Inggeris di Pahang, Sultan Ahmad mengadakan mesyuarat bersama Dato’ Bahaman, Tok Gajah dan pembesar-pembesar Pahang di Kuala Bera, Temerloh. Selepas mesyuarat sulit yang diadakan di Sungai Salan, Pulau Tawar, Jerantut, semua pihak membuat keputusan tidak bersetuju membenarkan campurtangan pihak Inggeris ke atas Pahang.

Pada tahun 1885, British telah mengangkat Wan Mansur, kekanda kepada Sultan Ahmad menjadi Raja Muda. Berikut berlakunya kematian seorang Cina di istana Sultan Ahmad telah menyebabkan Sultan Ahmad terpaksa menandatangani perjanjian membenarkan British campurtangan dalam pemerintahan Pahang. Walaupun pada mulanya baginda enggan menerima kehadiran bangsa asing, atas beberapa helah dan desakan dari British, Sultan Ahmad akhirnya terpaksa bersetuju untuk menerima seorang Residen British di Pahang.

JP Rodger pada mulanya hanya berkhidmat sebagai penasihat Sultan untuk memerintah negeri tetapi lama-kelamaan lelaki asing itu mula besar kepala. Dia mula mengambil alih urusan mentadbir Pahang serta masuk campur ke dalam adat dan agama penduduk tempatan. Rodger mula merangka pelbagai peraturan sesuka hatinya tanpa berunding dengan sultan atau pembesar negeri. Sultan Ahmad dipaksa meluluskan segala peraturan yang diperkenalkan olehnya. Antara peraturan diperkenalkan Rodger, ternyata melanggar adat resam orang Melayu. Antaranya ialah melarang penduduk membawa senjata atau keris sesuka hati.

Rodger juga melarang pembesar negeri memungut cukai walaupun sebelum itu, semua pembesar diberi mandat oleh Sultan untuk memungut cukai, sebaliknya, Rodger melantik pegawainya, E.A Wise untuk mengutip cukai. British juga melantik E.A Wise sebagai majistret dan pasukan polis di kalangan pegawai mereka bagi mengawal dan mengadili kes jenayah dan secara tidak langsung mengurangkan kuasa pembesar Melayu yang dipertanggungjawab menjalankan tugas berkenaan sebelum itu.

Tindakan Rodger menimbulkan kemarahan pembesar Melayu terutama Dato’ Bahaman. Beliau enggan tunduk kepada perintah British dan terus mengutip cukai di Semantan. Tindakan Dato’ Bahaman itu menyebabkan British menghantar surat amaran kepada beliau tetapi tokoh pahlawan itu tetap tidak mengendahkannya. Tindakan Dato’ Bahaman itu turut disokong penduduk yang enggan bertuankan bangsa asing di tanah air sendiri.

Ketegangan bermula pada bulan Disember 1890 ketika E.A Wise hendak mendirikan sebuah balai polis di Lubuk Terua yang terletak di kawasan Dato’ Bahaman, tanpa sebarang perundingan dengannya. Apabila Hugh Clifford, Pemangku Residen British Pahang, mengetahui hal tersebut, beliau menasihatkan Sultan dan baginda kemudian menitahkan Dato’ Bahaman supaya pergi ke Pekan agar perkara itu dapat disiasat. Oleh sebab Dato’ Bahaman enggan ke Pekan, Sultan mengeluarkan surat perintah yang melucutkan pangkat dan tarafnya sebagai Dato’ Setia Perkasa Pahlawan, Orang Kaya Semantan.

Oleh kerana perlucutan jawatannya oleh Sultan dipengaruhi oleh Inggeris, Dato’ Bahaman bersumpah akan menghalau orang-orang Inggeris keluar dari Pahang kerana mereka telah memalukannya.

Pada Oktober 1891, British menghantar 25 anggotanya ke Balai Polis Lubuk Terua bagi mengawasi tindak-tanduk Dato’ Bahaman. Kemuncak kepada kebiadapan British apabila pihak Inggeris menangkap 3 orang pengikut Dato’ Bahaman di Sungai Semantan ketika sedang memancing ikan. Ketiga-tiga orang pengikut Dato’ Bahaman itu dibawa ke rumah pasung Lubuk Terua untuk diadili dan dihukum. Pihak Inggeris menuduh Dato’ Bahaman menyuruh ketiga-tiga orang itu mencuri hasil hutan tanpa kebenaran dan memerintahkan Dato’ Bahaman ditangkap dan dihukum. Salah seorang pengikut Dato’ Bahaman yang telah ditangkap berjaya melepaskan diri dan memberitahu Dato’ Bahaman tentang rancangan jahat Inggeris.

Dato’ Bahaman kemudiannya meminta pihak Inggeris membebaskan penduduk yang ditahan sebaliknya pihak Inggeris menunjukkan sikap besar kepala dan enggan mengikut arahan berkenaan. Mereka berkeras membawa tahanan itu ke Balai Polis Lubuk Terua untuk ditahan dan dibicara. Kesabaran Dato’ Bahaman berakhir dan beliau bersama pengikutnya menyerang pasukan polis British ketika mereka dalam perjalanan membawa tahanan ke balai polis berkenaan.

Setelah mengetahui peristiwa di Semantan itu, pegawai-pegawai Inggeris Pahang menyediakan tentera untuk melawan penentang Melayu. Ekoran dari itu pada 21 Disember 1891, satu pasukan yang diketuai oleh Clifford dan Tengku Mahmud pergi ke Kampung Kelubi yang merupakan kubu kedua pertahanan Dato’ Bahaman. Di sini berlaku sekali lagi pertempuran antara pihak Inggeris dengan Dato’ Bahaman tetapi pihak Inggeris sekali lagi ditewaskan.

Pada Disember 1891, Tengku Mahmud bersama-sama dengan 200 orang pengikutnya, dan Hugh Clifford bersama-sama dengan 60 orang Sikh di bawah pimpinan Kapten Summer telah mengaturkan gerakan untuk menyerang dan menangkap Dato’ Bahaman dan orang-orangnya. Bagaimanapun gerakan ini menemui kegagalan setibanya di Kelubi kerana keengganan pasukan Melayu bekerjasama dengan pasukan polis Sikh. Pihak Inggeris yang diketuai Hugh Clifford mengalami kekalahan dan terpaksa berundur dan meminta bantuan dari Singapura.

Pada Januari 1892, pihak Inggeris telah memaksa Sultan Wan Ahmad untuk menamatkan kebangkitan Dato’ Bahaman di Pahang. Satu pasukan yang dinamakan “Gerakan Sultan” telah dilancarkan pada 22 Januari 1892 dengan kekuatan 800 orang. Seramai 140 daripadanya mempunyai senjat api yang dipimpin oleh Tengku Ali, Rodger (Residen Pahang), Panglima Garang Yusof, Saiyid Ali Badoh dan Abdullah dari Bera. Gerakan ini juga menemui kegagalan kerana selain daripada hanya dapat memusnahkan 11 buah kubu kecil termasuk Kubu Batu Ampar, jejak Dato’ Bahaman tidak dapat dikesan dan tidak ada tanda-tanda yang memungkinkan Orang Kaya Semantan itu dan pengikut-pengikutnya yang terdekat akan tertangkap. Pada awal bulan Februari, 1892, keadaan tegang dianggap telah berakhir. Untuk sementara waktu, daerah Semantan telah diletakkan dibawah jagaan Abdullah Bera.

Pada Mac 1892, pasukan Dato’ Bahaman berjaya menawan semula Lubuk Terua. Perjuangan Dato’ Bahaman menjadi lebih hebat kerana dibantu oleh Tok Gajah. Pihak Inggeris kalah dan Abdullah Bera terpaksa pulang ke Bera. Kubu Lubuk Terua dikawal oleh orang-orang dari Cempaka dan Buluh. Ternyata mereka bersimpati dengan gerakan penentangan Dato’ Bahaman terhadap Inggeris.

Pada Mei 1982, Inggeris telah menyerang Lubuk Terua lagi. Pejuang Pahang terpaksa berundur ke Kelantan dan Terengganu. Di Terengganu, Ulama Tok Ku Paluh telah menyemarakkan semangat pejuang Pahang untuk berjihad menentang Inggeris. Pada 14 Jun 1894, Kuala Tembeling dan Jeram Ampai berjaya ditawan oleh Dato’ Bahaman bersama 100 orang pengikutnya.

Pada 29 Jun 1894 sepasukan tentera kerajaan Inggeris yang diketuai oleh Jeneral Walker menyerang kumpulan penentang Inggeris yang diketuai oleh Datuk Bahaman, Tok Gajah, Mat Kilau dan Mat Kelubi di Jeram Ampai, Kuala Tembeling, Pahang. Dalam serangan itu Pemangku Penguasa Ulu Pahang bernama Wise, terbunuh bersama empat anggota polis. Serangan tersebut menyebabkan Mat Kilau berundur ke Kelantan. Ini menandakan berakhirnya perang menentang Inggeris di Pahang.

Sir Hugh Clifford, Residen Bristish di Pahang melancarkan serangan secara besar-besaran yang menelan belanja yang banyak, memburu mereka hingga ke Terengganu dan Kelantan.

Gerakan itu dihentikan pada bulan November 1995 apabila Datuk Bahaman, Pawang Nong dan Mat Lela dikatakan menyerah diri kepada kerajaan Siam tetapi diberi tempoh perlindungan dan ditempatkan di Chiengmai pada awal 1996, manakala Tok Gajah dan Mat Kilau diberitakan meninggal di Terengganu.

Kebangkitan Dato’ Bahaman selama 4 tahun (1891-1894) telah menyebabkan pihak Inggeris menanggung hutang yang banyak. Sultan Ahmad dipaksa membayar sebanyak 7200.00 dollar setahun bagi menyelesaikan hutang tersebut.

Pengistiharan persetiaan


Semasa berada di Bunut Payung Kelantan, Dato Bahaman, Mat Kilau, Mat Lela & Mat Kelubi membuat satu pengistiharan persetiaan memberitahu bahawa mereka telah meninggal dunia.


Percubaan bunuh Dato’ Bahaman dan pengikutnya

Percubaan membunuh Dato’ Bahaman dan pengikutnya berlaku di Kuala Lebir, dekat Kota Baru pada tahu 1896. Satu jamuan makan serabai dan bubur jagung muda telah diadakan oleh orang besar adik beradik iaitu Wan Ngah, Wan Nik, Dato’ Lela dan orang besar Lebir. Seramai 15 orang termasuk 8 orang besar Kelantan dan Siam serta 7 orang pejuang Pahang. Kuih Serabai, bubur jagung muda dan air minuman yang dijamukan telah dibubuh racun. Mat Lela telah melarang Dato’ Bahaman dan kawan-kawannya dari menjamah hidangan yang beracun tersebut. Akhirnya, pembesar Kelantan dan Siam yang khianat memohon maaf dan mengakui kesalahan mereka.


Persetiaan sumpah

Memandangkan keadaan tidak selamat, Dato’ Bahaman dan pengikutnya telah mengambil keputusan pergi ke Siam. Sebelum itu satu persetiaan telah dilakukan di Kg. Bukit Haji Pak Jedih, Tanah Merah, dimana para pejuang bersumpah akan menggunakan nama lain dan tidak akan mendedahkan siapa diri mereka sebenarnya. Seramai 7 orang terlibat dalam sumpah persetiaan itu, iaitu Dato’ Bahaman (Panglima Kakap), Mat Kilau (Mat Siam, Mat Dahan, Mat Dadu, Mohamed Ibrahim), Mat Lela (Kilat Senja, Gong Poh), Mamat Kelubi (Tok Janggut).

Pada tahun 1911, Dato’ Bahaman telah kembali ke Kelantan manakala Mat Lela pergi ke Indonesia, sementara 2 orang pejuang lagi telah meninggal dunia di Patani, Siam. Pada tahun 1920, Dato’ Bahaman balik ke Kuantan dan tinggal di Kg. Paya Lalang (Padang Lalang) dengan memakai nama Lebai Deraman. Pada tahun 1926, Dato’ Bahaman berpindah ke Kg. Peramu dan dikenali sebagai Tok Guru Peramu. Mat Kilau pula dikatakan berpindah ke Kg Aur Rompin, Tanjumg Medang, Kg. pasir Panjang, Kg. Batu Tering Pekan, Kg. Batu Lima Jalan Gambang. Mamat Kelubi dan Panglima Hitam tidak diketahui kisahnya. Dato’ Bahaman tinggal di Kg. Peramu sehingga kematiannya.


(resam-melayu.com)

Isnin, 30 Ogos 2010

31 Ogos : Umno Patrotik Atau Hipokrit. (Bhg 3)


Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (Tulisan Jawi: ڤرتوبوهن كبڠسأن ملايو برساتو, Inggeris:United Malay National Organisation; biasa dikenali sebagai UMNO atau PEKEMBAR ): adalah parti politik terbesar di Malaysia dan merupakan pengasas dan tulang belakang pakatan Barisan Nasional yang telah memerintah Malaysia tanpa terganggu sejak merdeka lagi. 

Ia dikenali sebagai penjaga nasionalisme Melayu atau ketuanan Melayu dan ideologi Islam, yang memperjuangkan bahawa orang Melayu dan orang-orang Muslim lain merupakan orang peribumi di Malaysia, oleh itu berhak menerima keistimewaan sebagai hak semenjak lahir seperti yang termaktub di dalam perlembagaan Malaysia.

Dasar perjuangan Umno bertunjangkan kepada ideologi nasionalisme Melayu atau lebih tepat sebagai parti perkauman Melayu. Berbeza dengan dasar parti PAS yang meletakkan al-Quran dan al-Hadith sebagai perlembagaan tertingginya. Umno pula menjadikan Suruhanjaya Reid yang bersifat sekular sebagai perlembagaan tertinggi mereka. 

Sehinggakan apa sahaja undang-undang/hukum walau pun daripada Allah s.w.t. jika bercanggah dengan perlembagaan Reid, maka undang-undang/hukum itu dengan sendiri terbatal.  Inilah yang dipertahankan sangat-sangat oleh kerajaan BN yang didokong oleh Umno. 

Penentangan PAS terhadap Umno bukan atas nama ia Umno, tetapi disebabkan Umno mempertahankan perlembagaan sekular sebagai anutan negara dan hukum Allah s.w.t. bukan sahaja ditolak, malah dipersenda-sendakan oleh pemimpin Umno tanpa mengambil kira akidah mereka.

Bagi Umno, erti kemerdekaan ialah merdeka dari penjajahan British biar pun pemikiran masih lagi dijajah. Demi menghalalkan ideologi yang dianuti mereka, rakyat Malaysia digula-gulakan dengan pembangunan kebendaan dan menepikan pembangunan rohani. Tidak dinafikan pembangunan amat penting, tetapi adakah ia seiring dengan pembangunan kerohanian?.

Alasan dangkal yang diberikan oleh Umno berkaitan hukum Syariah tidak dapat dilaksanakan kerana umat Islam (Umno/Bn) perlu diberi penerangan. Apakah rakyat Malaysia telah diberi penerangan semasa mereka mengubal undang-undang baik mengenai kesalahan jalanraya sehinggalah kesalahan jenayah?. 

Walaupun ramai rakyat Malaysia tidak mengetahui akan undang-undang yang digubal, rakyat Malaysia tetap menerimanya. Apa yang susah sangat bagi Umno bila berkaitan dengan Islam?. Apakah cukup dengan alasan  yang rakyat Malaysia terdiri dari berbagai kaum dan agama, maka hukum Syariah sukar dilaksanakan?. 

Islam sendiri memberi pilihan kepada penganut agama lain dalam soal berhukum. Mereka bebas untuk memilih hukum Islam atau pun hukum yang mengikut agama mereka sendiri. Umno bukan sahaja menolak hukum Allah s.w.t., malah mereka sendiri menakut-nakutkan penganut agama lain agar bersama-sama dengan Umno. 

Umno ditubuhkan pada Mei 1946 dengan restu penjajah British diatas pengkhianatan pemimpin-pemimpin mereka terhadap bangsa mereka sendiri. Sebagai golongan elit dan 'anak emas' penjajah British, mereka tidak disenangi oleh kebanyakkan orang Melayu yang menganggap mereka sebagai 'talibarut British'.  

Mereka diberi jawatan tinggi, hidup dalam kemewahan dan belajar sampai ke England kerana merekalah yang akan menyambung ideologi sekular penjajah British. Mereka (Umno) sebenarnya lebih selesa berada dibawah pemerintahan British daripada menuntut kemerdekaan. 

Kepimpinan Islam bukanlah sepenuhnya dan di sepanjang masa diterima baik oleh penjajah, malah se awal 1948 lagi atas petunjuk British, Dato' Onn Jaafar telah memperlihatkan kebimbangannya terhadap Hisbul Muslimin yang dianggap terpengaruh oleh Parti Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) dan Masyumi di Indonesia, dengan pernyataannya yang terkenal; 'Hubaya, hubaya, bahaya dari Gunung'.

Ini mengambarkan tentang pertembungan antara ideologi Islam yang diutarakan oleh Hisbul Muslimin dengan ideologi kebangsaan yang didokong oleh Umno serta mendapat sokongan penjajah British. Lantaran itulah antara sebab usia Hisbul Muslimin agak pendek dan Ustaz Abu Bakar Al-Baqir sendiri telah ditahan.

Maka tidak mustahil idea untuk menubuhkan 'Malaya Union' oleh penjajah British hanyalah permainan politik dalam usaha penjajah British menaikkan nama Umno dimata orang Melayu. Ini disebabkan penjajah British telah mengharamkan parti politik orang Melayu dan menangkap para pemimpinnya. 

Dalam keadaan orang Melayu yang terkapai-kapai dengan tindakkan penjajah British, maka kesempatan ini telah diambil alih oleh Umno dengan bantuan penuh daripada penjajah British sendiri. Walaupun PAS ditubuhkan dari serpihan Umno pada 1951, hakikatnya Hisbul Muslimin telah dijelmakan dalam parti baru iaitu PAS. Ianya memang disedari orang-orang tempatan Gunung Semanggol dan Selingsing kerana kemudiannya PAS dengan senang sahaja berkubu di daerah ini dan berjaya.

Siapakah Iman Mahdi a.s. Itu? (Bhg 2)

Manipulasi Hadis

Ketika kita merujuk kepada buku-buku referensi hadis dan sejarah, yang kita dapati adalah, bahwa Imam Mahdi as adalah putra Imam Hasan al-‘Askari, sebagaimana hal itu dapat kita simak pada sekilas pembahasan di atas. Akan tetapi, kita akan menemukan satu hadis dalam buku-buku referensi Ahlussunnah yang berlainan dengan hadis-hadis tersebut. Di dalam hadis ini terdapat penambahan sebuah frase yang—mungkin—memang disengaja untuk memanipulasi dan menciptakan keraguan dalam menilai hadis-hadis tersebut.
Anehnya, sebagian orang memegang teguh satu hadis ini dan meninggalkan hadis-hadis lain yang lebih dapat dipercaya, mungkin karena hadis itu sejalan dengan ide dan kiprah politik-sosialnya.
Hadis itu adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِيْ دَاوُدَ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زُرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ (ص) أَنَّهُ قَالَ: "لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ وَاحِدٌ، لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنِّيْ (أَوْ: مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ) يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَ اسْمُ أَبِيْهِ اسْمَ أَبِيْ ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَ جَوْرًا."
Diriwayatkan dari Abu Daud, dari Zaidah, dari ‘Ashim, dari Zurr, dari Abdullah, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Seandainya tidak tersisa dari (usia) dunia ini kecuali hanya sehari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga Ia membangkitkan seseorang dariku (dari Ahlulbaitku) yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku . Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.”
Hadis di atas tidak dapat kita jadikan pijakan, baik dari sisi sanad maupun dari sisi kandungan.
Dari sisi sanad, hadis ini diriwayatkan dari Zaidah. Jika kita merujuk kepada buku-buku ilmu Rijal, akan kita dapatkan bahwa semua nama Zaidah memiliki catatan negatif dalam sejarah hidupnya; Zaidah bin Sulaim adalah seorang yang tidak diketahui juntrungannya (majhûl), Zaidah bin Abi ar-Ruqad adalah seorang yang lemah (dha’îf), menurut Ziyad an-Numairi dan hadisnya harus ditinggalkan, menurut Bukhari, dan Zaidah bin Nasyid tidak dikenal kecuali melalui riwayat putranya darinya, menurut Ibnu al-Qatthan. Sementara Zaidah (dengan tidak disebutkan nama ayahnya), hadisnya harus ditinggalkan, menurut Abu Hatim dan hadisnya tidak bisa diikuti, menurut Bukhari, atau ia ahli dalam menyisipkan kata-kata baru ke dalam hadis, menurut sebagian ulama Rijal. [9]
Dari sisi kandungan, tidak hanya Zaidah yang meriwayatkannya dari jalur Zurr. Bahkan, ada beberapa jalur lain selaian Zaidah, dan hadis-hadis itu tidak memiliki tambahan “dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku”. Dari sini dapat diketahui bahwa tambahan frase tersebut adalah ulah tangan Zaidah. Di samping itu, hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw mengenai Imam Mahdi as tidak memiliki tambahan frase tersebut. Ditambah lagi ijmâ’ Muslimin yang menegaskan bahwa Imam Mahdi adalah putra Imam Hasan al-‘Askari as.
Al-Hâfizh al-Kunji as-Syafi’i menulis, “Semua hadis yang datang dari saw tidak memiliki tambahan frase ‘dan nama ayahnya sama dengan nama ayahu’. ... Tirmidzi telah menyebutkan hadis tersebut dan tidak menyebutkan frase ‘dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku’, dan di dalam kebanyakan hadis-hadis para perawi hadis yang dapat dipercaya hanya terdapat frase ‘namanya sama dengan namaku’. Pendapat penentu dalam hal ini adalah, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dengan ketelitiannya telah meriwayatkan hadis tersebut di dalam Musnadnya di beberapa kesempatan, dan ia hanya menyebutkan frase ‘namanya sama dengan namaku’.” [10]
Yang perlu kita simak di sini adalah mengapa penambahan frase itu harus terjadi? Adakah tujuan tertentu di balik itu?
Minimal ada dua kemungkinan di balik penambahan frase tersebut:
Pertama , ada usaha untuk melegitimasi salah satu penguasa dinasti Abbasiah yang bernama Muhammad bin Abdullah. Ia memiliki julukan al-Mahdi, dan dengan hadis picisan tersebut mereka ingin mengaburkan opini umum tentang al-Mahdi yang sebenarnya.
Kedua , ada usaha untuk melegitimasi Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang memiliki julukan an-Nafs az-Zakiyah (jiwa yang suci). Karena ia memberontak kepada penguasa Bani Abbasiah waktu itu, para pembuat hadis itu ingin memperkenalkannya—sesuai dengan kepentingan politis-sosialnya—kepada khalayak bahwa ia adalah al-Mahdi yang sedang ditunggu-tunggu. [11]
BERSAMBUNG
(IMAMALMAHDI.COM)

Sejarah Yang Hilang : Kenali Pejuangan Tok Kenali..



Tok Kenali ialah satu nama yang paling terkenal dalam dunia pengajian Islam menggunakan sistem pondok di Malaysia. Bahkan beliau juga terkenal di seluruh alam Melayu. Oleh itu, memang riwayat beliau perlu diketahui oleh masyarakat. Dalam dua keluaran terakhir perbicaraan tentang ulama, telah disentuh perjuangan tokoh yang antipenjajah (Tok Ku Paloh Terengganu dan Haji Sulong al-Fathani). Ada orang berpendapat bahawa Tok Kenali tidak pernah terlibat dalam perjuangan yang bercorak demikian.
Bagi saya, pendapat seperti demikian itu adalah hanya ditinjau dari satu sudut yang belum menyeluruh.

Tok Kenali ialah murid yang paling dipercayai oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, oleh itu hampir-hampir tidak ada satu rahsia perjuangan Syeikh Ahmad al-Fathani yang tidak diketahui oleh Tok Kenali. Di sini saya sentuh sedikit saja. Syeikh Ahmad al-Fathani ialah tokoh pertama dari lingkungan dunia Melayu sejagat yang secara diplomatik pergi ke Istanbul, Turki untuk melaporkan perbuatan tiga bangsa yang menjajah di dunia Melayu ketika itu. Bangsa-bangsa itu ialah Inggeris, Belanda dan Siam. Walau bagaimanapun, supaya suasana tidak selalu keras dan tegang dalam corak pemikiran jihad zhahiri, kisah Tok Kenali saya fokuskan kepada pemikiran jihad shufi. Jihad zhahiri lebih menitikberatkan perjuangan secara fizikal, sedang jihad shufi lebih mengutamakan pembinaan dalaman, qalbi atau hati dan rohani. Kedua-dua jenis jihad itu adalah penting dikombinasikan secara sepadu. Selain itu dalam disiplin ilmu akidah dan tasawuf ia dikenali dengan istilah ‘Wali Allah’ dan ‘karamah’ (istilah Melayu: keramat).

Tradisi penulisan para ulama Islam juga banyak menceritakan tentang ‘karamah’ para Wali Allah. Tulisan saya dalam Utusan Malaysia yang telah lalu (133 siri) tentang ‘karamah’ sengaja tidak saya sentuh kerana saya lebih mengutamakan riwayat yang berdasarkan fakta. Oleh kerana ramai yang minta kepada saya supaya menulis tentang karamah yang pernah berlaku pada Tok Kenali maka permintaan itu saya paparkan berdasarkan cerita yang telah saya kumpulkan daripada pelbagai sumber sejak tahun 1950-an lagi.

Karamah Tok Kenali

Nama sebenar Tok Kenali ialah Haji Muhammad Yusuf bin Ahmad al-Kalantani, lahir pada 1287 H/1871 M, wafat Ahad, 2 Syaaban 1352 H/19 November 1933 M. Yang saya riwayatkan ini adalah berdasarkan pelbagai cerita yang saya dengar, oleh itu tidak terikat sangat dalam sistem penulisan ilmiah.

Yang saya ingat pada tahun 1953, ibu saya Hajah Wan Zainab binti Syeikh Ahmad al-Fathani hanya menyebut nama murid ayahnya itu dengan istilah Awang Kenali. Menurutnya, Syeikh Ahmad al-Fathanilah yang pertama menggunakan istilah ‘Awang’ itu. Riwayatnya, sewaktu Syeikh Ahmad al-Fathani menjadi utusan ulama Mekah ke Beirut dan Mesir untuk menyelesaikan pertikaian pendapat antara Saiyid Yusuf an-Nabhani (Beirut) dengan Syeikh Muhammad Abduh (Mesir) dalam rombongan itu, Awang Kenali ikut serta.
Ketika sampai di Bukit Tursina, kerana di tempat itulah Nabi Musa mendengar ‘Kalam Allah’, Syeikh Ahmad al-Fathani menyuruh murid-muridnya munajat secara khusus. Awang Kenali ditugaskan supaya minta menjadi ulama. Nik Mahmud ditugaskan munajat minta menjadi seorang pembesar Kelantan. Setelah Tok Kenali munajat, Syeikh Ahmad al-Fathani menyatakan bahawa ilmu Awang Kenali tinggi hanya mencapai ‘awan’ tidak menjangkau kepada langit. Ilmu yang sampai ke peringkat ‘awan’ itulah yang dapat dijangkau oleh kebanyakan ulama di tanah Jawi.

Daripada perkataan ‘awan’ itulah kemudian bertukar menjadi ‘Awang’. Cerita yang sama juga saya dengar daripada Haji Wan Ismail bin Hawan, Qadhi Jala (cerita didengar pada tahun 1970). Dalam surat-surat Syeikh Ahmad al-Fathani kepada pihak lain, termasuk kepada orang Arab dan Turki, apabila melibatkan muridnya itu, beliau mengekalkan tulisan dengan istilah ‘Awan Kenali’ saja tanpa menyebut nama lainnya.
Pada tahun 1969 saya dengar cerita bahawa Tok Kenali pertama-tama datang ke Mekah penuh dengan peristiwa yang pelik-pelik (ajaib). Kehidupan sehari-harinya penuh dengan tawakal. Beliau tidak mempunyai pakaian yang lebih daripada sehelai, tidak memiliki wang, tidak siapa mengetahui beliau makan ataupun tidak pada setiap hari siang ataupun malam. Hampir-hampir tidak ada orang yang mengenalinya di Mekah ketika itu.

Orang yang tidak mengenalinya hanya memperhatikan keanehannya berada dari satu halaqah ke satu halaqah yang lain dalam Masjid Haram, Mekah. Keberadaannya dalam sesuatu halaqah tidak pula membawa sesuatu kitab seperti orang lainnya. Pada kebanyakan masa ketika duduk dalam halaqah beliau memejamkan mata, orang menyangka beliau bukan mendengar pelajaran tetapi tidur. Antara ulama yang mengajar dalam Masjid al-Haram ketika itu ada yang tembus pandangannya, diketahuinyalah bahawa pemuda yang aneh itu bukanlah sembarangan orang, martabatnya ialah seorang ‘Wali Allah’.

Walau bagaimanapun, tidak seorang ulama peringkat Wali Allah di Mekah mahu membuka rahsia itu kepada murid-muridnya. Ketika Tok Kenali sampai di Mekah, Syeikh Ahmad al-Fathani telah mengetahui pemuda yang berasal dari Kelantan itu, tetapi sengaja tidak dipedulikannya kerana pada firasat Syeikh Ahmad al-Fathani pemuda Kelantan itu sama ada lekas ataupun lambat akan datang juga kepada beliau.

Dalam masa berbulan-bulan peristiwa seperti di atas, pada satu ketika Tok Kenali mengunjungi halaqah Syeikh Ahmad al-Fathani. Tok Kenali duduk jauh di belakang pelajar-pelajar lain. Syeikh Ahmad al-Fathani telah mempersiapkan sekurang-kurangnya tiga kemusykilan atau masalah, yang pada pemikiran Syeikh Ahmad al-Fathani tidak akan dapat dijawab oleh siapa pun yang hadir dalam majlis pengajiannya, kecuali seseorang itu memiliki pandangan ‘kasyaf’ ataupun telah memperoleh ‘ilmu ladunni’.

Sewaktu Syeikh Ahmad al-Fathani melemparkan pengujian atau pertanyaan kepada semua pelajar, Tok Kenali seperti orang tidur-tidur saja. Semua pelajar terdiam, tidak seorang pun berkemampuan menjawab masalah yang dikemukakan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani. Tiba-tiba Syeikh Ahmad al-Fathani menyergah pemuda Kelantan yang sedang tidur. Pemuda itu terkejut. Syeikh Ahmad al-Fathani menyuruhnya supaya datang ke hadapan duduk bersama beliau. Disuruhnya pemuda Kelantan itu menjawab masalah ujian yang dikemukakan lalu semuanya dijawab dengan sejelas-jelasnya.

Setelah peristiwa itu Tok Kenali menjadi murid yang paling mesra dengan Syeikh Ahmad al-Fathani. Bahkan Tok Kenali menjadikan dirinya sebagai ‘khadam’ kepada Syeikh Ahmad al-Fathani. Seluruh gerak dan diam Tok Kenali hanyalah berkhidmat kepada gurunya itu, kerana diketahuinya bahawa seluruh kerja Syeikh Ahmad al-Fathani semata-mata untuk kepentingan agama Islam dan bukan kepentingan peribadinya. (Cerita yang sama juga didengar daripada Tuan Guru Haji Mahmud bin Yusuf Juani di Pondok Gajah Mati, Kedah pada tahun 1970. Beliau ialah murid Tok Bermin, sahabat Tok Kenali).

Hampir semua murid Tok Kenali yang pernah saya temui meriwayatkan bahawa orang yang pernah belajar dengan Tok Kenali semuanya mendapat kedudukan dalam masyarakat. Apabila seseorang murid itu lebih berkhidmat kepada beliau maka ternyata akan lebih pula ilmu yang diperolehnya. Demikian juga kedudukan dalam masyarakat. Yang dimaksudkan berkhidmat di sini ialah ada yang pernah menyiram Tok Kenali ketika mandi. Bahkan ada murid yang pernah membasuh beraknya sesudah buang air besar.

Murid yang sampai kepada kedua-dua peringkat ini saja yang menjadi ulama besar, antara mereka termasuk Syeikh Idris al-Marbawi dan Syeikh Utsman Jalaluddin Penanti. (Sumber cerita ini daripada murid beliau, Tuan Guru Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani, Mufti Mempawah, yang didengar pada tahun 1969 di Mempawah; Tuan Guru Haji Mahmud di Gajah Mati, Kedah pada tahun 1970; Qadhi Haji Wan Ismail bin Hawan di Jala pada tahun 1970; Tuan Guru Haji Abdur Rahim Kelantan di Mekah pada tahun 1979, dan masih ada yang lain yang belum perlu disebutkan.)

Walaupun telah diketahui umum Tok Kenali berasal dari Kelantan tetapi sewaktu saya mengembara ke negeri Caiyya (nama asalnya Cahaya) yang terletak jauh ke Utara Patani dan Senggora, orang tua-tua bercerita bahawa asal usul datuk nenek Tok Kenali adalah dari Cahaya. Diriwayatkan ada dua atau tiga kali Tok Kenali pernah datang ke negeri Cahaya. Setiap kali Tok Kenali datang beliau dimuliakan orang. Tempat yang menjadi laluan Tok Kenali dihamparkan dengan kain kuning, demikian juga tempat duduknya. Orang ramai datang berduyun-duyun menziarahi Tok Kenali kerana mengambil berkat keramatnya. Ada orang tertentu yang didoakan oleh Tok Kenali ternyata dikabulkan oleh Allah sebagaimana doa yang beliau ucapkan (riwayat ini didengar di Caiya (Cahaya) pada 1992).

Penulisan

Penglibatan Tok Kenali dalam penulisan adalah sebagai bukti beliau seperti juga ulama-ulama terkenal lainnya. Beliau ialah Ketua Pengarang majalah Pengasuh yang pertama ketika majalah itu mula-mula diterbitkan. Dari sini dapat kita buktikan bahawa majalah Pengasuh merupakan majalah Islam yang paling lama dapat bertahan di Nusantara. Majalah Pengasuh masih kekal diterbitkan hingga sekarang ini (1427 H/2006 M) oleh Majlis Agama Islam Kelantan. Semua majalah Islam di Nusantara yang diterbitkan peringkat awal, bahkan termasuk yang agak terkebelakang, semuanya tidak diterbitkan lagi.

Karya-karya Tok Kenali yang ditulis dalam bentuk risalah atau kitab pula antaranya ialah Risalatud Durril Mantsur, yang selesai ditulis pada bulan Jumadil Akhir 1310 H/Disember 1892 M. Kandungannya merupakan terjemahan dan penjelasan fadhilat Burdah Bushiri. Dicetak dalam bentuk huruf batu/litografi oleh Syeikh Abdullah Mujallid, Mekah pada Jumadilakhir 1310 H.

Karya Tok Kenali dalam bidang ilmu sharaf pula ialah Madkhal Kamil fi 'Ilmis Sharfi, selesai penulisan pada 15 Rabiulawal 1351 H. Kandungan merupakan karya tashhih tentang ilmu sharaf. Kemungkinan maksud daripada gurunya Syeikh Ahmad al-Fathani, iaitu karya berjudul Abniyatul Asma' wal Af'al. Dicetak oleh Mathba'ah al-Asasiyah al-Kalantaniyah atas perbelanjaan Haji Wan Daud bin Haji Wan Sufyan.

Karya Tok Kenali dalam bidang ilmu nahu pula ialah Mulhiq li Miftahit Ta'allum fi I'rabi Matnil Ajrumiyah wal Amtsilah 'ala Ratbih, selesai penulisan pada 29 Sya’ban 1354 H. Membicarakan ilmu nahu merupakan huraian kitab Matn al-Ajrumiyah. Kitab ini dikumpulkan atau ditulis kembali oleh salah seorang muridnya iaitu Tuan Guru Haji Abdullah Thahir bin Ahmad, Bunut Payung. Dicetak oleh Persama Press, Pulau Pinang atas kehendak Tuan Guru Abdullah Thahir bin Ahmad bin Muhammad Zain pada 9 Safar 1356 H. 

(ulama.blogspot)

Siapa Yang Menghina Islam?



 Teo Nie Ching dan tidak Islam dikecam kerana tidak menutup aurat didalam surau!!!

Bagaimana dengan Rosmah????

Jika Ibrahim Ali, Presiden Perkasa mencadangkan agar ada undang-undang bagi menghalang insiden bukan Islam memasuki kawasan surau dan masjid. 
  • Berapakah jaraknya?. 
  • Adakah 1 meter atau 10 meter ataupun 100 meter dari kawasan surau dan masjid?.
  • Bagaimana kalau Perkasa cadangkan agar Non Muslim hanya boleh pegang pagar sahaja?.
  • Bagaimana Islam mengikut ukuran Perkasa?. 
  • Bagaimana jika hanya Muslimin dan Muslimat sahaja yang dibenarkan tanpa mengira bangsa?. 
  • Bagaimana pandangan Perkasa tentang Islam dan bukan Islam sama-sama tidak menutup aurat didalam surau? 
  • Bagaimana jika yang ada kad keahlian Perkasa dan Umno sahaja yang dibenarkan?.
  • Manakah yang lebih memalukan diantara dua gambar diatas pada pandangan Perkasa?.
Isu yang dimainkan oleh Umno ialah kerana Y.B. tersebut tidak menutup aurat semasa berada didalam surau. Bagaimana kalau beliau menutup kepala ketika itu, apa pula isu yang akan dimainkan oleh Umno. Adakah aurat mengikut pandangan Umno hanya untuk bukan Islam sahaja, maka wanita Umno dibenarkan.

Jika inilah taksiran Umno tentang aurat, maka Umno yang mengaku sebagai parti Islam patut cerminkan diri dahulu. Jangan sesekali Islam dijauhi daripada bukan Islam semata-mata kerana ia tidak mengikut acuan Umno. Jadi, siapa sebenarnya yang mempermain-mainkan institusi masjid?. 

Sejarah Yang Hilang : Kenali Pejuangan Tokku Paloh.



Peranan penting ayah beliau, Saiyid Muhammad bin Saiyid Zainal Abidin al-Aidrus atau Tok Ku Tuan Besar di Terengganu, dilanjutkan pula oleh Tok Ku Paloh.
Beberapa riwayat tulisan yang terdahulu daripada ini, termasuk percakapan lisan, ada memperkatakan tentang sumbangan tersebut. Bagaimanapun, saya menemui beberapa dokumen yang menunjukkan Tok Ku Paloh bukan berpengaruh di Terengganu saja, tetapi juga di Patani.
Hubungan beliau sangat erat dengan Haji Wan Ismail bin Syeikh Ahmad al-Fathani, iaitu Kadi Jambu. Walau bagaimanapun, Haji Wan Ismail al-Fathani (lahir 2 Jamadilawal 1304 H/27 Januari 1887 M) dari segi perbandingan umur adalah peringkat cucu kepada Tok Ku Paloh (lahir 1233 H/1818 M).
Tahun lahir Tok Ku Paloh itu sama dengan tahun lahir Syeikh Wan Muhammad Zain al-Fathani (lahir 1233 H/1817 M). Beliau ini ialah datuk kepada Haji Wan Ismail al-Fathani. Hubungan antara Haji Wan Ismail al-Fathani, Kadi Jambu, dengan Tok Ku Paloh hanyalah kesinambungan hubungan yang terjalin sejak zaman datuknya itu, dan meneruskan hubungan antara Tok Ku Paloh dengan ayah beliau, iaitu Syeikh Ahmad al-Fathani.
Darah perjuangan Tok Ku Paloh dalam memperjuangkan Islam dan bangsa Melayu tidak dapat dinafikan mempunyai kesan tersendiri dalam tubuh Syeikh Ahmad al-Fathani. Isu kemaslahatan Islam dan bangsa Melayu yang menghadapi pelbagai masalah penjajah pada zaman itu perlu dilihat dalam konteks hubungan antara Syeikh Ahmad al-Fathani, Tok Ku Paloh dan Sultan Zainal Abidin III, Terengganu.
Tok Ku Paloh dirahmati berumur panjang. Beliau meninggal dunia pada bulan Zulhijjah 1335 H/September 1917 M. Bererti ketika meninggal dunia Tok Ku Paloh berusia sekitar 102 tahun menurut perhitungan tahun hijrah atau 100 tahun menurut tahun masihi.
Nama penuh beliau ialah Saiyid Abdur Rahman bin Saiyid Muhammad bin Saiyid Zainal Abidin al-Aidrus. Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus mempunyai beberapa nama gelaran, yang paling popular ialah Tok Ku Paloh. Gelaran lain ialah Engku Saiyid Paloh, Engku Cik, Tuan Cik dan Syaikh al-Islam Terengganu. Tok Ku Paloh mempunyai beberapa orang adik-beradik. Ada yang seibu sebapa dan ada juga yang berlainan ibu. Adik-beradik kandung Tok Ku Paloh ialah Saiyid Zainal Abidin al-Aidrus yang digelar dengan Engku Saiyid Seri Perdana, Saiyid Ahmad al-Aidrus digelar Tok Ku Tuan Ngah Seberang Baruh dan Saiyid Mustafa al-Aidrus yang digelar Tok Ku Tuan Dalam.
Beliau ialah seorang ulama dan Ahli Majlis Mesyuarat Negeri semasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III. Adik-beradiknya selain yang disebut itu ialah Tuan Embung Abu Bakar atau digelar dengan nama Tuan Embung Solok atau Tok Ku Tuan Kecik, Tuan Nik (Senik). Antara nama-nama tersebut, ramai yang memegang peranan penting dalam Kerajaan Terengganu tetapi nama yang paling masyhur ialah Tok Ku Paloh.
Pendidikan
Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus atau Tok Ku Paloh berketurunan ‘Saiyid’. Oleh itu sudah menjadi tradisi keturunan itu untuk lebih mengutamakan usaha mempelajari ilmu-ilmu daripada orang yang terdekat dengan mereka. Ayah beliau, Saiyid Muhammad al-Aidrus atau Tok Ku Tuan Besar, pula merupakan seorang ulama besar yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam urusan Islam di Terengganu. Dapat dipastikan Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus telah belajar pelbagai bidang ilmu daripada orang tuanya sendiri.
Hampir semua orang yang menjadi ulama di Terengganu pada zaman itu memperoleh ilmu melalui jalur daripada ulama-ulama yang berasal dari Patani. Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus, selain belajar daripada ayahnya, juga berguru dengan Syeikh Wan Abdullah bin Muhammad Amin al-Fathani atau Tok Syeikh Duyung (lihat Utusan Malaysia, Isnin, 6 Mac 2006).
Saiyid Muhammad al-Aidrus atau Tok Ku Tuan Besar dan Tok Syeikh Duyung bersahabat baik dan sama-sama belajar daripada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani di Bukit Bayas, Terengganu. Mereka juga sama-sama belajar dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani di Mekah.
Dalam artikel ini saya terpaksa menjawab satu e-mel dari Brunei Darussalam yang bertanyakan apakah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani berketurunan Nabi Muhammad s.a.w.? Sepanjang dokumen yang ditemui ada tulisan meletakkan nama ‘Wan’ pada awal nama beliau. Ada saudara pupu saya di Mekah memberi maklumat bahawa beliau menemui satu catatan Syeikh Ismail al-Fathani (Pak De ‘El al-Fathani) bahawa ulama Patani itu juga berketurunan marga ‘al-Aidrus’.
Sejak dulu saya mengetahui ada catatan lain menyebut hal yang sama bahawa Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani di Bukit Bayas, Terengganu juga termasuk marga ‘al-Aidrus’. Dengan keterangan ini bererti antara ulama Patani dengan ulama Terengganu yang diriwayatkan ini selain ada hubungan keilmuan mereka juga ada perhubungan nasab.
Perjuangan
Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh) melanjutkan pelajarannya di Mekah. Di sana beliau bersahabat dengan Syeikh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani (kelahiran Sungai Duyung Kecil, Terengganu) dan ramai lagi. Antara orang yang menjadi guru mereka di Mekah ialah Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki.
Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus setelah pulang dari Mekah memusatkan aktivitinya di Kampung Paloh, Terengganu. Menurut Muhammad Abu Bakar, Kampung Paloh didatangi orang daripada pelbagai jurusan, bukan saja dari sekitar Kuala Terengganu, tetapi juga dari Kelantan, Pahang dan Patani (Ulama Terengganu, hlm. 181). Diriwayatkan bahawa salah seorang murid Tok Ku Paloh ialah Sultan Zainal Abidin III. Riwayat lain pula mengatakan antara muridnya yang terkenal dan menjadi pejuang antipenjajah ialah Haji Abdur Rahman Limbung dan Tok Janggut.
Tok Ku Paloh ialah ulama yang tidak takut menanggung risiko tinggi dalam perjuangan demi mempertahankan Islam dan bangsa Melayu. Beliau melindungi pejuang-pejuang Islam dan Melayu yang bermusuh dengan penjajah Inggeris pada zaman itu. Semangat jihadnya sungguh indah, menarik dan ada hembusan segar seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad Abu Bakar.
Katanya: “Dalam Perang Pahang, penentang-penentang British yang dipimpin oleh Datuk Bahaman, Tok Gajah dan Mat Kilau hampir-hampir menyerah diri setelah mengalami tekanan daripada kerajaan.
“ Pada Mei 1894, mereka menghubungi Tok Ku Paloh, dan mendapat simpati daripada ulama tersebut. Ini bukan sahaja memberi nafas baru kepada perjuangan mereka, tetapi mereka juga diberi perlindungan di Paloh serta diajar ilmu untuk menentang musuh mereka di Pahang. Hugh Clifford dalam pemerhatiannya mengatakan Tok Ku Paloh telah menyeru pahlawan-pahlawan itu melancarkan perang jihad.
“Hasil semangat baru yang diperoleh daripada Tok Ku Paloh, serta penambahan kekuatan, pasukan pahlawan menjadi lebih besar dan tersusun.” (Ulama Terengganu, hlm. 184)
Daripada riwayat ini, kita dapat mengambil iktibar berdasarkan peristiwa dunia terkini bahawa ramai tokoh Islam menjadi pejuang Islam dan bangsanya, dan ramai pula yang menjadi pengkhianat. Afghanistan, Iraq, Palestin dan Lebanon menjadi sasaran bom yang dilancarkan oleh bangsa-bangsa bukan Islam. Ada ramai pejuang Islam di sana. Pengkhianat pun banyak. Bangsa kita, bangsa Melayu yang beragama Islam, patut mencontohi perjuangan bijak Tok Ku Paloh. Janganlah ada manusia Melayu yang khianat terhadap agama Islam dan bangsanya.
Tok Ku Paloh sangat berpengaruh terhadap murid dan saudara ipar beliau iaitu Sultan Zainal Abidin III. Beberapa pandangan dan nasihat Tok Ku Paloh kepada Sultan Zainal Abidin III tentang pentadbiran kerajaan banyak persamaan dengan surat-surat dan puisi Syeikh Ahmad al-Fathani kepada Sultan Terengganu itu. Semasa Tok Ku Paloh dan Sultan Zainal Abidin III masih hidup, Inggeris tidak berhasil mencampuri pentadbiran negeri Terengganu.
Tok Ku Paloh wafat pada bulan Zulhijjah 1335 H/September 1917 M dan Sultan Zainal Abidin III mangkat pada 22 Safar 1337 H/26 November 1918 M. Sesudah itu, tepat pada 24 Mei 1919 M barulah Inggeris dapat mencampuri kerajaan Terengganu.
Penulisan
Ahli sejarah, Datuk Misbaha ada menyebut bahawa risalah ‘Uqud ad-Durratain adalah karya Tok Ku Tuan Besar, berdasarkan cetakan tahun 1950 oleh ahli-ahli Al-Khair dan cetakan pada tahun 1978 oleh Yayasan Islam Terengganu (Pesaka, hlm. 91). Tetapi pada cetakan yang jauh lebih awal berupa selembaran dalam ukuran besar yang diberi judul Dhiya’ ‘Uqud ad-Durratain, ia merupakan karya Tok Ku Paloh. Tertulis pada cetakan itu, “Telah mengeluar dan mengecapkan terjemah ini oleh kita as-Saiyid Abdur Rahman bin Muhammad bin Zain bin Husein bin Mustafa al-Aidrus….”
Di bawah doa dalam risalah itu dinyatakan kalimat, “Tiada dibenarkan sekali-kali siapa-siapa mengecapkan terjemah ini melainkan dengan izin Muallifnya dan Multazimnya Ismail Fathani. Tercap kepada 22 Ramadan sanah 1335 (bersamaan dengan 11 Julai 1917 M).”
Yang dimaksudkan Ismail Fathani pada kalimat ini ialah Kadi Haji Wan Ismail bin Syeikh Ahmad al-Fathani. Risalah cetakan ini saya terima daripada salah seorang murid Haji Wan Ismail Fathani.
Beliau menjelaskan bahawa risalah itu diajarkan di Jambu, Patani secara hafalan. Orang yang menyerahkan risalah itu bernama Nik Wan Halimah yang berusia lebih kurang 78 tahun (Oktober 2000). Ketika beliau menyerahkan risalah itu kepada saya, beliau masih hafal apa yang termaktub dalam risalah itu.
Kemuncak penulisan Tok Ku Paloh yang sering diperkatakan orang ialah kitab yang diberi judul Ma’arij al-Lahfan. Sungguhpun kitab ini sangat terkenal dalam kalangan masyarakat sufi sekitar Terengganu, Kelantan dan Pahang namun ia belum dijumpai dalam bentuk cetakan.
Saya hanya sempat membaca tiga buah salinan manuskrip kitab itu. Ilmu yang terkandung di dalamnya adalah mengenai tasawuf.
Sebagaimana telah disebutkan, Tok Ku Paloh ialah seorang pejuang Islam dan bangsa. Beliau ialah penganut Thariqat Naqsyabandiyah.
Antara anak Tokku Paloh ialah Saiyid Aqil bin Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus. Beliau inilah yang bertanggungjawab mentashhih dan menerbitkan kitab nazam Kanz al-Ula karya datuknya, Tok Ku Tuan Besar, terbitan Mathba’ah al-Ahliyah Terengganu, 1347 H.

Ahad, 29 Ogos 2010

31 Ogos : Umno Patrotik Atau Hipokrit. (Bhg 2)

Semasa saya masih dibangku sekolah, guru sejarah saya banyak berceritakan tentang sejarah yang tidak ada dalam buku sejarah yang dibekalkan oleh kerajaan. Ini telah menarik minat saya terhadap mata pelajaran sejarah, baik berkaitan negara mahu pun dunia.

Sejarah yang disajikan oleh pihak kerajaan dengan bantuan penjajah British telah menyempitkan minda para pelajar berkaitan sejarah negara sendiri. Buktinya........ anda tanyalah anak-anak anda tentang sejarah Malaysia dan anda akan dapat jawapannya.

Otak anak-anak kita telah disumbat dengan cerita-cerita betapa hebatnya Umno berjuang sehingga merdeka. Tidak salah untuk Umno memperbesar-besarkan nama pemimpin mereka, tetapi jangan pinggirkan pengorbanan pejuang-pejuang terdahulu dan seangkatan mereka. 

Bagi pemikiran Umno, erti kemerdekaan ialah apabila sesebuah negara itu telah dipulangkan kembali kepada rakyat dan Umno/Bn sebagai pemerintah maka itulah kemerdekaan. Apakah sesebuah negara penjajah akan memberi kemerdekaan kepada negara umat Islam dengan begitu mudah?. Begitu mudah sekali bagai mengopek kulit kacang?.

Perdana Menteri British pernah memegang senaskah al-Quran didalam parlimen British sambil berkata," Kita tidak akan dapat menjajah negara umat Islam dengan membakar al-Quran dan masjid-masjid kerana orang yang kurang iman pun akan bangun menentang kita. Apa yang akan kita lakukan ialah dengan menjajah pemikiran umat Islam".

Buktinya boleh kita lihat bagaimana cara pemikiran pemimpin Umno yang lepas dan yang ada sekarang ini. Islam mengajar umatnya dengan berpandukan al-Quran dan as-Sunnah tetapi penjajah British meninggalkan  Malaya kepada Umno yang sekular dengan berpandukan Suruhanjaya Reid yang menjadi Perlembagaan Malaysia sebagai kitab rujukan. Jadi, apakah Malaysia benar-benar sudah merdeka?

Kita mengambil beberapa contoh seperti perkataan 'Alam Semulajadi' yang mana ianya melibatkan akidah umat Islam. Tidakkah 'Alam Yang Dijadikan' adalah perkataan yang patut umat Islam sebutkan sebagai mengESAkan Allah s.w.t. 

Semasa kita di sekolah, apa yang dihidangkan dalam bacaan ialah ;' Ali seorang petani, Ah Chong seorang perniaga dan Muthu seorang penoreh getah'. Dari sini pun penjajah telah membahagikan kedudukkan satu-satu bangsa dalam negara. Bandar untuk bangsa Cina kerana mereka peniaga, kampung untuk bangsa Melayu dan estet untuk bangsa India sebagai penoreh. Disebabkan itulah bumiputera sampai sekarang tidak dapat kouta 30 % dalam ekonomi. Dibawah ialah penyata suruhanjaya reid sebagai renungan.



Suruhanjaya reid merupakan sebuah suruhanjaya bebas yang berperanan merangkaPerlembagaan bagi Persekutuan Tanah Melayusebelum Tanah Melayu memperoleh kemerdekaan daripada Britain pada 31 Ogos 1957. Suruhanjaya ini telah dinamakan sempena nama pengerusinya iaitu seorang hakim Mahkamah Rayuan England,Lord William Reid.
Suruhanjaya Reid ditubuhkan pada Mac 1956. Pertemuan sebanyak 118 kali telah diadakan antara Jun hingga Oktober 1956, iaitu selepas rombongan Parti Perikatan pulang dari Perundingan London, dan telah menerima 131 memorandum dari pelbagai pihak individu dan organisasi. Semua surat memorandum daripada rakyat jelata yang berminat akan dipertimbangkan dan terdapat juga yang ditolak termasuk daripada Parti Perikatan sendiri.
Suruhanjaya tersebut telah menyerahkan draf kerja atau laporan pada Februari 1957 yang telah diperhalusi oleh Jawatankuasa Kerja. Jawatankuasa Kerja diwakili oleh empat orang pemerintah Melayu, empat orang lagi daripada parti yang memenangi pilihanraya pertama iaitu Parti Perikatan, Suruhanjaya Tinggi British, Setiausaha Agung, dan Peguam Negara. Perbincangan mengenai laporan yang dikeluarkan mengambil masa dua bulan dan apabila pindaan telah diterima, rang perlembagaan itu dirujuk kepada Majlis Raja-raja untuk disahkan. Kemudian rang perlembagaan itu dibincangkan semula dengan kerajaan British.
Cadangan Suruhanjaya Reid diterima oleh Parlimen British pada Jun 1957. Draf perlembagaan dibentang untuk diluluskan Majlis Perundangan Persekutuan. Rang Perlembagaan itu telah diperkenankan oleh Majlis Raja-raja pada bulan Jun 1957 dan Majlis Undangan Persekutuan telah menerima dan meluluskannya pada 15 Ogos 1957dan Perlembagaan tersebut berkuatkuasa pada 27 Ogos. (Walau bagaimanapun, secara rasminya pada 31 Ogos iaitu selepas kemerdekaan.) Perlembagaan tersebut kemudiannya telah dipinda dengan beberapa perubahan kecil bagi menyesuaikannya menjadi Perlembagaan Malaysia apabila Tanah Melayu bergabung denganSingapuraSabah dan Sarawak lalu membentukMalaysia.

[sunting]Ahli Suruhanjaya Reid

[sunting]Cadangan Suruhanjaya Reid

Menurut Laporan Suruhanjaya Reid, kerajaan Persekutuan Tanah Melayu yang merdeka akan diketuai seorang Raja. Di samping itu, sistem kerajaan bersekutu yang sedia ada akan diteruskan iaitu dengan kewujudan kerajaan pusat dan kerajaan negeri. Raja-raja Melayu pula akan terus kekal sebagai ketua negeri masing-masing manakala bagi negeri yang tidak beraja sepertiPulau Pinang dan Melaka, ia akan bergabung dalam Persekutuan dan diketuai oleh Yang Dipertua (berperanan seperti Gabenor).
Corak pemerintah telah dipersetujui untuk menggunakan corak demokrasi dan ahli Parlimenakan dipilih melalui pilihan raya umum untuk mewakili rakyat dan mengawal pentadbiran kerajaan.

[sunting]Pindaan laporan Suruhanjaya Reid

Antara pindaan yang telah dibuat ke atas Suruhanjaya Reid ialah pindaan berkaitan soalbahasa. Suruhanjaya Reid mencadangkan supayabahasa Cina dan bahasa Tamil boleh digunakan di dalam Parlimen dan Dewan Negeri. Cadangan ini telah ditolak tetapi hak orang Cina dan India menggunakan bahasa masing-masing sebagai bahasa pengantar di sekolah rendah telah diterima.
Cadangan mengenai agama juga dipinda dan walaupun rumit, agama Islam tetap diterima sebagai agama rasmi Persekutuan. Pindaan ini diterima oleh orang bukan Melayu kerana menjamin hak setiap rakyat Persekutuan Tanah Melayu untuk bebas menganut agama sendiri.
Lagi satu pindaan dibuat ke atas laporan Suruhanjaya Reid adalah hak istimewa orang Melayu yang menurut suruhanjaya tersebut, hak keistimewaan orang Melayu hendaklah dipertimbangkan selepas 10 tahun merdeka. Cadangan ini ditolak sebaliknya dipersetujui bahawa hak istimewa ini dipertimbangkan dari semasa ke semasa atas arahan Yang di-Pertuan Agong. Terdapat beberapa syor lain yang dipinda dan semua pindaan dilakukan selepas perbincangan terperinci di antara semua pihak yang terlibat yang menunjukkan terdapatnya tolak ansur di kalangan rakyat pelbagai kaum di Tanah Melayu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Catatan Popular