Translate

Senarai Blog Saya

Isnin, 30 Januari 2012

Terkini: Ketua NFC Paksa Saya 'Rasuah' Polis, Kata Shamsubahrin.


Ahli perniagaan Datuk Shamsubahrin Ismail, yang dituduh menipu pengerusi eksekutif Perbadanan Fidlot Kebangsaan (NFC) Datuk Mohamed Salleh Ismail, mendakwa bahawa suami ketua wanita Umno itu memaksa beliau merasuah polis bagi menutup skandal syarikat berkenaan.

NONEBeliau membuat dakwaan itu pada polis laporan yang dibuat di Hospital Besar Klang Jumaat lalu. Perkara itu didedahkan oleh PKR di ibu pejabat parti itu di Petaling Jaya hari ini.

Dalam laporan polis itu, Shamsubahrin didakwa berkata beliau menerima mesej dan tekanan dari Salleh yang memintanya supaya kes NFC dengan pihak polis ditutup.

"Salleh, melalui panggilan telefon dan khidmat pesanan ringkas (SMS), mendesak saya untuk memberi rasuah kepada polis untuk menutup kes itu."
Dalam laporan itu, Shamsubahrin mendakwa beliau telah dilantik oleh NFC sebagai penasihat korporat dan perunding untuk "membersihkan" masalah dalaman NFC.

Beliau menambah bahawa telah bertemu dengan pihak polis untuk membantu siasatan mereka tetapi memaklumkan kepada Salleh bahawa beliau tidak akan memberi rasuah.

NFC dituduh menyalahgunakan pinjaman mudah RM250 juta oleh kerajaan dengan berbelanja ke atas aset mewah dan bukannya terhadap projek pusat ternakan lembu di Gemas, yang ditugaskan.

Ditanya jika PKR mempunyai bukti dalam bentuk SMS itu, naib presiden PKR N Surendran berkata Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) yang menyimpan telefon yang mengandungi mesej berkenaan.

"Beberapa telefon telah dirampas dari Shamsubahrin dan semua telefon kemudiannya dikembalikan kecuali satu. Yang disimpan oleh SPRM adalah telefon yang mengandungi bukti  penting ini.

"Ia di tangan pihak berkuasa tetapi kita mempunyai rekod, kita mempunyai salinannya," katanya.MK

Jumaat, 27 Januari 2012

Kisah Wali: Sayyidina Ali Zainal Abidin, Waliyullah Yang Sentiasa Bersujud.



Ia adalah cicit Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian dalam tragedi Karbala. Setelah dewasa ia menjadi wali yang setiap saat bersujud kepada Allah SWT.
Setelah dua cucu tersayang Rasulullah SAW, yaitu Hasan dan Husien, wafat, sementara sisa-sisa keturunan beliau yang lain terbunuh di padang Karbala, yang masih hidup ialah Ali Zainal Abidin, satu-satunya putra Sayyidina Husien bin Ali bin Abi Thalib. Cicit Rasulullah SAW ini lahir di Madinah pada 33 H / 613 M. sementara riwayat lain mengungkapkan ia lahir pada 38 H / 618 M. ketika pecah Tragedi Karbala pada abad ke-6 H (abad ke-12 M), ia baru berusia 11 tahun.

Termasuk generasi tabi`in, Ali Zainal Abidin banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya, Husien dan pamannya, Hasan, juga dari para Sahabat, seperti Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawir bin Makhramah, Abu Hurairah, Shafiyah, Aisyah, Ummu Kultsum, dan para istri Rasulullah SAW yang lazin disebut ummahatul mukminin, ibunda kaum Muslimin.
Ketika ayahandanya, Sayyidina Husien, berjuang melawan prajurit Khalifah Yazid bin Muawiyah, ia tengah sakit dan berada di dalam kemah bersama kaum wanita. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika semua anggota keluarganya berguguran mati syahid sehingga kenangan getir tak pernah lepas dari benaknya. Ia bahkan menyaksikan bagaimana ayahandanya dipancung.
Setelah perang usai, sisa anggota keluarga Sayyidina Husien yang masih hidup ditawan di Kufah, Irak. Bahkan Ali Zainal Abidin yang ketika masih berusia 11 tahun, hampir saja dibunuh. Tetapi nyawanya selamat, berkat kegigihan Sayyidah Zainab, bibinya, yang memeluknya dengan erat dan mencegah para prajurit mendekat. Tak lama kemudia para tawanan dipindah ke Damaskus, Syria, dipertemukan dengan Khalifah Yazid bin Muawiyah, tapi kemudian dibebaskan, bahkan diantar pulang ke Madinah.
Di Madinah itulah Ali Zainal Abidin tumbuh dewasa sebagai seorang yang sangat alim, ia tekun beribadah. Sementara ketinggian ilmu agamanya menjadikannya sebagai rujukan para ulama, terutama dalam hal ilmu hadits. Lebih dari itu ia sangat terkenal sebagai ahli ibadah yang luar biasa.
Muhammad Al-Baqir, anak lelakinya, bercerita, “Setiap kali mendapat nikmat Allah SWT, Imam Ali Zainal Abidin langsung bersujud, setiap kali membaca ayat Sajadah dalam Al-Qur`an ia selalu bersujud, setiap kali selesai shalat fardu, ia selalu bersujud, dan setiap kali berhasil mendamaikan orang berselisih, ia selalu bersujud. Karena sering bersujud itulah, tampak bekas sujud dikeningnya, dan karena itu pula ia disebut As-Sajjad, orang yang suka bersujud.”
Ali Zainal Abidin benar-benar mewarisi sikap dan sifat ayahandanya dalam hal keilmuan dan kezuhudan. “Diantara Bani Hasyim, saya kira dialah yang paling mulia,” kata Yahya Al-Anshari, salah seorang ulama terkemuka di masanya. Kemuliaan itu antara lain, karena ia selalu dalam keadaan suci, selalu berwudlu, dan tidak pernah absen menunaikan diyamul lail alias shalat Tahajud, baik di rumah maupun dalam perjalanan.
Suatu hari, ketika keluar dari masjid, seorang lelaki mencaci Ali Zainal Abidin. Spontan oranag-orang di sekitarnya berusaha memukul lelaki tersebut, tetapi Ali Zainal Abidin mencegahnya. Lalu katanya, “Apa yang engkau belum ketahui tentang diriku? Apakah engkau membutuhkan sesuatu?”
Mendengar ucapan lemah lembut itu, laki-laki tersebut merasa malu, lalu Ali Zainal Abidin memberinya uang 1000 dirham. Maka kata lelaki itu, “Saya bersaksi, engkau benar-benar cicit Rasulullah SAW.”
Makam Mukasyafah
Hampir setiap malam Ali Zainal Abidin menggotong sekarung gandum dan membaginya kepada fakir miskin di Madinah. “Sesungguhnya sedekah yang disampaikan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Allah,” katanya. Ketika itu, sebagian warga kota Madinah mendapat nafkah tanpa mengetahui darimana asal nafkahnya. Dan ketika Ali Zainal Abidin meninggal, ternyata mereka tidak lagi mendapat pembagian gandum.
Setiap kali meminjamkan uang atau pakaian, Ali Zainal Anidin tidak pernah memintanya kembali. Jika bernazar, tidak makan dan minum, ia tetap berpuasa sampai dapat memenuhi nazarnya. Begitu dermawan dan penuh kasih sayang, bahkan kepada hewan yang dikendarainya pun ia tidak pernah mencambuknya.
Meskipun tragedi Karbala sangat membekas di kalbunya, ia selalu berusaha menyadarkan umat agar bersabar menghadapi kekuasaan yang represif. Dengan arif ia mendidik dan memperbaiki nasib umat. Salah satunya dengan menyusun rangkaian doa berjudul As-Sahifah As-Sajjadiyah – yang ia maksudkan untuk mengobati penyakit rohani yang merajalela, sekaligus memanjatkan permohonan kepada Allah SWT agar umat terlepas dari situasi yang mengimpit.
Sebagai Waliyullah, ia dinilai sudah mencapai makam mukasyafah, peringkat tertinggi, yang mampu menyingkap tabir ketuhanan. Salah satu karomahnya ialah tentang surat rahasia dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan kepada panglimanya, Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi. Surat itu antara berbunyi, “Jauhkan aku dari lumuran darah Bani Abdul Mutha;ib, yang setelah bergelimang dalam dosa tidak lagi mampu bertahan kecuali dalam waktu yang tidak lama.”
Pada saat yang bersamaan, Ali Zainal Abidin juga menulis surat kepada Khalifah Malik bin Marwan, yang diantaranya berbunyi, “Anda telah menulis surat kepada Hajjaj mengenai keamanan kami, semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada anda.” Tentu saja Khalifah Abdul Malik bin Marwan tercengang membacanya. Sebab tanggal surat itu sama persis dengan tangga surat Khalifah kepada Hajjaj.
Dan ternyata saat keberangkatan utusan Ali Zainal Abidin dari Madinah juga sama dengan saat keberangkatan utusan Khalifah yang mengantarkan surat kepada Hajjaj. Karena itu, Khalifah Abdul Malik pun menyadari, , Allah telah membuka mata batin Ali Zainal Abidin. Ia lalu menulis surat dan menyampaikan hadiah kepada Ali Zainal Abidin.
Cicit Rasulullah ini juga dikenal sebagai pembela Hak Azasi Manusia. Dalam risalahnya, Risalah Al-Huquq, antara lain ia menulis, manusia punya hak dan kewajiban kepada Allah SWT, kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, dan kepada sesama makhluk Allah. Mengenai hak dan kewajiban kepada sesama manusia, ia memperinci hak dan kewajiban rakyat kepada penguasa dan sebaliknya. Risalah ini tentu sangat istimewa, karena ditulis pada abad ke 7 Masehi, sebelum lahirnya Dokumen Magna Charta dalam sejarah Inggris. Lima abad setelah itu, yang kemudian berkembanag menjadi Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia.
Pada zamannya, pengaruh Sayyidina Ali Zainal Abidin sangat kuat, begitu besar kharismanaya, sehingga seorang khalifah pun  mengkhawatirkan tahtanya. Ketika menggantikan ayahnya, Abdul Malik, sebagai khalifah, Walid sempat khawatir, jangan-jangan kharisma Ali Zainal Abidin mampu menggoyang tahtanya.
Pada 95 H / 675 M, Khalifah pun berusaha mendekati sang Waliyullah melalui seseorang yang kemudian ternyata meracunnya sehingga Ali Zainal Abidin meninggal dunia. Untuk kesekian kalinya anak cucu Rasulullah SAW berduka cita. Beliau wafat di Madinah pada 18 Muharam 95 H / 875 M. meninggalkan 11 orang putra  dan 4 orang putri. Jenazahnya di kebumikan di pemakaman Baqi` dekat makam sang paman, Sayyidina Hasan.

Amat Memalukan Bila Apple Miliki Wang Melebihi Kerajaan Malaysia.


SEBUAH telefon bimbit iPhone (kiri), komputer MacBook Air dan iPad dipamerkan di sebuah kedai Apple pada Selasa lalu.

Apple sekali lagi memintas Exxon sebagai syarikat AS paling berharga selepas ia mencatat suku kewangan yang mengagumkan.
Harga saham Apple Inc. meningkat enam peratus dalam dagangan tengah hari kelmarin untuk diniagakan pada harga AS$445.29 (RM1,354.35) sesaham dengan modal pengilang gajet iPhone dan iPad itu kini mencecah AS$415 bilion (RM1.26 trilion).
Ia jauh lebih besar daripada Rizab Antarabangsa Bank Negara Malaysia yang berjumlah RM429.7 bilion setakat 15 November tahun lalu.
Sementara itu, saham Exxon Mobil Corp. turun satu peratus kelmarin kepada AS$86.52 (RM263) sesaham manakala modal syarikat pula berjumlah AS$414 bilion (RM1.21 trilion).
Apple pertama kali mengatasi ExxonMobil sebagai syarikat paling bernilai pada Ogos tahun lalu dengan kedua-duanya bersaing sengit sejak itu.
Dalam satu kenyataan pada Selasa lepas, Apple memberitahu, pendapatan bersihnya untuk suku kewangan terbaharu yang berakhir pada Disember tahun lalu meningkat lebih dua kali ganda manakala perolehan syarikat pula melonjak 73 peratus.
Apple mengetepikan syarikat perisian komputer, Microsoft Corp yang kini berada di tempat ketiga dengan modal AS$247 bilion (RM751.25 bilion) untuk menjadi syarikat terbesar AS pada 2010.
Apple menyatakan ia menjual 37.04 juta iPhone pada suku kewangan tersebut, meningkat 128 peratus berbanding setahun lalu manakala jualan komputer iPad pula meningkat 111 peratus kepada 15.43 juta unit.
Pada suku kewangan sama, Apple turut menjual 5.2 juta komputer meja Macintosh, meningkat 26 peratus.
Namun, jualan pemain muziknya, iPod menurun 21 peratus kepada 5.4 juta berbanding setahun lalu.
Sebelum ini, kematian pengasas bersama Apple, Steve Jobs selepas dia menghidap kanser pada 5 Oktober 2011 ketika berusia 56 tahun menimbulkan spekulasi bahawa jurutera-jurutera Apple gagal meneruskan legasi kejayaannya.
Tim Cook, 51, yang mengambil alih tugas Ketua Eksekutif Apple pada Ogos 2011 dalam satu kenyataan pada Selasa lepas bagaimanapun percaya kesinambungan tersebut akan dapat diteruskan. - Agensi

Khamis, 26 Januari 2012

Kisah Mujahid: Al-Tirmidzi, Membuang Kitab Ke Sungai.


Ia pemikir mistisisme Islam terkemuka dan kreatif. Tidak berhasil menuntut ilmu agama ke daerah lain, ia lebih  mementingkan mengabdi kepada ibunya, dan akhirnya ia berguru kepada Nabi Khidir
Suatu hari, ketika cahaya surya yang terik melecut bumi seorang anak lelaki bernamaAbu Abdullah Hakim Al-Tirmidzi memutuskan untuk mengembara bersama dengan dua sahabatnya, menuntut ilmu. Namun niat luhur itu kandas, lantaran sang ibu tidak menyetujui keberangkatannya.
“Wahai buah hatiku, mengapa Ananda tega meninggalkan wanita yang sudah renta tak berdaya ini? Bila engkau pergi, tidak ada lagi seorang pun yang Ibunda miliki. Sebab selama ini engkaulah tempat sandaranku. Lalu kepada siapa Ananda akan menitipkan Ibunda yang sebatang kara dan lemah ini? Kata Ibundanya bercucuran air mata.
Apa boleh buat, ia terpaksa mengurungkan niatnya, sementara kedua sahabatnya berangkat. Keberangkatan kedua sahabatnya itu sering membuat Tirmidzi termenung. Suatu hari ia duduk termenung di sebuah makam, membayangkan kedua sahabatnya yang akan pulang. “Oh sedihnya aku, tiada seorangpun memperdulikan orang bodoh seperti aku. Sedangkan kedua sahabatku akan kembali sebagai orang terpelajar dan berpendidikan,” katanya, dalam hati sangat sedih.
Tanpa disadari, muncul seorang kakek dengan wajah teduh. “Mengapa engkau menangis, anakku?” tanya si kakek. Maka Tirmidzi pun menceritakan perihal kegundahan hatinya. Mendengar itu si kakek menawarkan kepada Tirmidzi untuk belajar kepadanya. “Maukah engkau belajar kepada saya setiap hari, sehingga engkau dapat melampaui kedua sahabatmu itu dalam waktu singkat?” kata sang kakek. Tentu saja Tirmidzi sangat senang. “Baik aku bersedia,” katanya berseri-seri.
Hari demi hari, kakek tua itu mengajar Tirmidzi. Sekitar tiga tahun kemudian, barulah Tirmidzi menyadari bahwa si kakek itu sesungguhnya adalah Nabi Khidir. “Rupanya inilah keberuntungan yang kuperoleh karena telah berbakti kepada Ibuku dengan penuh ketulusan hati,” katanya dalam hati.
Ketika di kemudian hari, salah seorang murid Tirmidzi, yaitu Abu Bakar Al-Warraq, mengisahkan, setiap hari minggu Nabi Khidir mengunjungi Tirmidzi untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan agama. Pada suatu hari, Tirmidzi berkata kepada Warraq, “Maukah engkau kuajak pergi ke suatu tempat pada hari ini?” Tanpa pikir panjang, Warraq menjawab, “Terserah Syekh saja, saya pasti ikut.”

Sungai Oxus

Maka mereka pun berangkat, tatkala sampai di sebuah padang pasir, Warraq melihat sebuah singgasana kencana di bawah naungan sebatang pohon rindang di pinggir sebuah telaga. Di sana duduk seorang lelaki, yang berpakaian indah, ketika Syekh Tirmidzi menghampirinya, lelaki itu berdiri dan mempersilahkan duduk di singgasana. Dan tak lama kemudian 40 orang berdatangan dan berkumpul di situ. Tiba-tiba mereka memberi isyarat ke atas. Maka seketika itu juga tersajilah berbagai hidangan lezat, merekapun bersantap bersama. Setelah itu Syekh Tirmidzi berdialog dengan mereka.
Tapi, bahasa mereka sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Warraq. Beberapa saat setelah itu, Tirmidzi mohon diri. “Mari pergi, karena engkau telah diberkahi,” katanya kepada Warraq, maka mereka pun pulang.
“Wahai Syekh, apakah arti semua kejadian tadi?” Tempat apakah itu, dan siapakah mereka itu?” tanya Warraq. “Tempat itu adalah lembah pemukiman putra-putra Israil,” jawab Tirmidzi.
“Tapi, bagaimana kita dapat pulang pergi dalam waktu sesingkat itu?” tanya Warraq. “Jika Allah berkenan mengantarkan kita, sampailah kita. Apalah gunanya kita bertanya, mengapa dan bagaimana, yang penting engkau sudah sampai ke tujuan, bukan untuk bertanya-tanya,” jawab Tirmidzi.
Kemudian Tirmidzi bertutur mengenai pengalamannya. “Aku pernah berjuang keras untuk menundukkan hawa nafsu namun aku tidak berhasil. Dalam keputusasaan, aku berkata dalam hati. “Mungkin Allah telah menciptakan diriku untuk disiksa di neraka. Lalu untuk apa diri yang terkutuk ini harus terus kupertahankan? Maka akupun pergi ke pinggir sungai Oxus, di sana aku minta tolong kepada seseorang untuk mengikat kaki dan tanganku. Tapi setelah itu, ia pergi meninggalkan aku seorang diri. Lalu aku berguling-guling menjatuhkan diri ke dalam air, aku ingin mati tenggelam,” tutur Tirmidzi.
Ia melanjutkan kisahnya, “Ketika aku tercebur ke dalam air, ikatan di tanganku terlepas dan gulungan ombak mengempaskan tubuhku ke pinggir sungai. Dengan perasaan kalut terharu aku berseru, “Ya Allah, Yang Maha Besar, engkau telah menciptakan seorang yang tak pantas diterima, baik di surga maupun di neraka,” tiba-tiba terbukalah mata hatiku, dan terlihatlah olehku segala sesuatu yang semetinya dilakukan oleh manusia terhadap Allah dan dirinya sendiri. Sejak itu, terbebaslah aku dari hawa nafsu. Selama hayat aku selalu bersyukur, setiap kali mengingat-ingat hal itu.”
Dalam pada itu, Abu Bakar Al-Warraq punya kisah lain mengenai gurunya itu. Suatu hari Tirmidzi menyerahkan buku-bukunya kepada Warraq agar dibuang ke Sungai Oxus. Tapi ia tidak lantas membuangnya, melainkan membacanya terlebih dahulu. Dari sekian buku yang dibaca, buku-buku itu penuh dengan seluk beluk dan kebenaran mistik. Maka ia pun tidak jadi melaksanakan perintah gurunya, dan disimpanlah buku-buku itu di rumahnya.

Membuang Buku

Keesokan harinya Tirmidzi bertanya kepada Warraq. “Apakah buku-buku yang kuberikan kemarin sudah kau buang ke Sungai Oxus? Lalu kejadian apa yang kau saksikan setelah itu?” jawab Warraq, “Sudah Ya Syekh, buku-buku itu telah saya lemparkan ke dalam sungai, tapi saya tidak menyaksikan kejadian apapun.” Maka kata Tirmidzi lagi. “Kalau begitu berarti engkau belum membuang buku-buku itu ke sungai, pergilah dan buanglah!”
Tentu saja Warraq terheran-heran. “Apa gerangan yang membuat Tirmidzi rela melakukan hal itu? Apa yang akan terjadi seandainya buku-buku itu aku buang ke sungai? Ia bingung dan penasaran. Lalu sambil menyusuri Sungai Oxus, ia melemparkan buku-buku itu.
Seketika itu juga air sungai itu terbelah, dan antara belahan itu muncul sebuah peti yang terbuka, dan buku-buku itu terjatuh ke dalam peti itu. Setelah seluruh buku berada dalam peti, tutup peti itu mengatup sendiri, sementara air sungai pun bersatu kembali seperti sedia kala. Menyaksikan kejadian itu, Warraq terheran-heran sambil membaca tasbih.
Ketika Warraq pulang, Tirmidzi bertanya, “Sudahkah engkau lemparkan buku-buku itu?” Jawab Warraq, “Sudah, Guru, demi keagungan Allah, katakanlah kepadaku, apakah rahasia di balik semua itu?” Tirmidzi menjelaskan, “Buku-buku itu memuat segala hal mengenai ilmu sufi yang ditulisnya dengan keterangan yang sulit dipahami oleh manusia biasa.
“Khidir minta buku-buku itu. Sedangkan peti yang kau lihat tadi itu dibawakan oleh seekor ikan atas permintaan Khidir. Dan Allah, Yang Mahabesar, memerintahkan kepada air untuk mengantarkan peti itu kepadanya,” tutur Tirmidzi.
Selain karomah-karomah yang luar biasa itu, Tirmidzi juga dikenal sebagai ulama yang ramah. Suatu ketika seorang muridnya bertanya kepada keluarga Tirmidzi. “Kalau guru sedang marah, apakah kalian tahu?” Maka jawab salah seorang keluarga Tirmidzi. “Ya, kami tahu. Dan setiap kali ia marah kepada kami, ia akan bersikap lebih ramah daripada biasanya. Kemudian ia tidak mau makan dan minum.
Ia menangis dan memohon kepada Allah. “Ya Allah, apakah perbuatanku yang menimbulkan murka-Mu, sehingga engkau membuat keluargaku sendiri menentangku? Ya Allah, aku mohon ampunan-Mu, tunjukkan lah mereka jalan yang benar.” apabila ia berbuat seperti itu, tahulah kami bahwa ia sedang marah. Dan segeralah kami bertobat, agar ia terlepas dari duka citanya itu.”
***
Ada seorang asket besar yang hidup sezaman dengan At-Tirmidzi. Ia selalu mengkritik At-Tirmidzi.
Di seluruh dunia ini, At-Tirmidzi tak memiliki apapun kecuali sebuah pondok. Saat ia kembali dari perjalanannya dari Hijaz, seekor anjing telah melahirkan di pondoknya yang tak berpintu.
At-Tirmidzi tak ingin mengusir anjing itu. Ia datang dan pergi sebanyak delapan kali dengan harapan anjing itu akan pergi sendiri dengan membawa anak-anaknya.
Malam itu sang asket itu bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi berkata, “Sirrah, engkau menentang seseorang yang delapan kali menolong seekor anjing. Jika engkau menginginkan kebahagiaan abadi, pergilah, kencangkan ikat pinggangmu, dan mengabdilah padanya.”
Sang asket menjadi terlalu malu untuk menjawab salam At-Tirmidzi. Sejak saat itu, ia mengabdi pada At-Tirmidzi.
***
Selama beberapa waktu At-Tirmidzi tidak bertemu dengan Nabi Khidir.
Pada suatu hari seorang pembantu wanita mencuci pakaian bayi, membuang kotoran bayi ke sebuah baskom. Sementara itu Sang Syekh, dengan memakai jubah yang bersih dan sorban yang tanpa noda, tengah berjalan menuju masjid.
Si pembantu itu, karena merasa kesal dengan sesuatu yang sepele membuang isi baskomnya tepat di kepala Sang Syekh.
At-Tirmidzi diam saja dan menelan amarahnya, seketika itu kembali dapat berjumpa dengan  Nabi Khidir AS.
***
Di masa mudanya, ada seorang wanita cantik yang tergila-gila padanya, dan meminta At-Tirmidzi untuk melamarnya, namun At-Tirmidzi menolaknya dengan halus. Kemudian pada suatu hari, wanita itu mengetahui At-Tirmidzi sedang saantai di taman. Si wanita itu berdandan dan pergi menuju ke taman itu.
Ketika At-Tirmidzi mengetahui kedatangan wanita itu, ia melarikan diri. Wanita itu berlari mengejarnya. At-Tirmidzi tidak perduli, ia memanjat tembok yang tinggi dan melompat ke seberang.
Suatu hari di masa tuanya, At-Tirmidzi mengenang masa itu dan berkata dalam hatinya, “Apa masalahnya seandainya aku memenuhi hasrat wanita itu? Aku toh masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk bertobat.”
Saat ia merasakan pikiran ini di benaknya, ia diliputi oleh kesedihan yang mendalam.
“Dasar jiwa yang bodoh dan durhaka!” tukasnya. “Empat puluh tahun lalu, dalam gejolak mudamu, pikiran seperti itu tidak merasukimu, kini di masa tuamu yang sudah renta ini, setelah melalui begitu banyak perjuangan, mengapa engkau menyesal karena tidak melakukan perbuatan dosa?”
Merasa sangat sedih, selama tiga hari ia duduk menyesali pikirannya itu. Setelah tiga hari berlalu, ia melihat Nabi SAW dalam mimpinya.
Nabi SAW berkata padanya, “Muhammad, janganlah bersedih, apa yang terjadi bukanlah disebabkan oleh ketergelinciranmu. Pikiran ini merasuki benakmu karena empat puluh tahun lagi telah bertambah sejak kepergianku dari dunia ini. Periode kepergianku dari dunia ini telah bertambah lagi selama itu. Ini bukanlah dosamu, bukan pula karena kemunduran spiritualmu. Apa yang engkau alami disebabkan oleh bertambah panjangnya periode kepergianku dari dunia ini, bukan dikarenakan kemunduran karaktermu.”

Rabu, 25 Januari 2012

Kisah Wali: Bisyir Bin Harits, Seorang Wali Dari Dunia Pemabuk

Bismillah
Hidayah bisa datang kepada siapa saja yang dikehendaki Allah SWT. Tak terkecuali Bisyir bin Harits, seorang pemuda yang gemar minum-minuman keras.
Bisyir bin Harits benar-benar datang. Ia menempati janji seperti yang disampaikan kepada saudara perempuannya. Namun kemunculannya terlihat lain, ia limbung seperti halnya orang yang tengah kebingungan.

Belum lagi duduk atau berkata sepatah katapun untuk basa-basi, Bisyir malah melenggang meninggalkan ruang tamu, “Saya akan naik ke atas,” begitu kata Bisyir tanpa basa-basi, membuat saudara perempuannya heran.
Keheranan saudara perempuan Bisyir kian bertambah. Pasalnya setelah melewati beberapa anak tangga menuju ke loteng, Bisyir berhenti. Ia terdiam di sana sampai saat subuh tiba.
“Mengapa sepanjang malam tadi engkau hanya berdiri di tangga itu?” tanya saudara perempuan Bisyir  sesaat setelah Bisyir selesai melaksanakan shalat subuh.
“Ketika saya baru naik, tiba-tiba muncul pemikiran dalam otakku. Di Baghdad ini banyak orang yang memiliki nama Bisyir, ada yang Yahudi, Kristen, Majusi. Aku sendiri seorang muslim yang bernama Bisyir. Saat ini aku mendapat kebahagiaan yang besar. Aku bertanya dalam diriku: Apakah yang telah aku lakukan ini sehingga mendapat kebahagiaan sedemikian besar, dan apa pula yang selama ini mereka kerjakan sehingga tidak mendapat kebahagiaan seperti yang kudapat? Itulah yang membuatku berdiri di tangga itu sepanjang malam tadi,” kata Bisyir kepada suadara perempuannya.
Tingkah aneh yang dilakukan Bisyir tidak itu saja. Orang-orang yang mengenalnya mengetahui, hampir separuh hidup Bisyir dijalani dengan penuh keanehan.
Suatu ketika cuaca sangat dingin, orang-orang yang tidak kuat dengan cuaca itu merangkap bajunya beberapa lembar, tapi Bisyir malah melepas bajunya yang dipakai hingga menggigil kedinginan.
“Mengapa engkau melepas bajumu wahai Abu Nashr, bukankah engkau menggigil kedinginan. Lihatlah orang-orang itu, mereka mengenakan baju berlapis-lapis,” kata salah seorang sahabat yang merasa aneh dengan tingkah Bisyir.
“Aku teringat pada orang-orang miskin, betapa menderitanya mereka saat ini, sementara aku tidak punya uang untuk membantu mereka, karena itu aku turut merasakan penderitaan seperti yang mereka rasakan saat ini,” kata Bisyir. Sahabatnya tidak bisa berkata-kata.
Di waktu yang lain, Bisyir berjanji hendak mengunjungi Ma’ruf, salah satu sahabatnya. Mendapati janji tersebut Ma’ruf dibuat girang. Dengan sabar Ma’ruf menunggu kedatangan Bisyir hingga waktu dluhur tiba, Bisyir belum juga tiba hingga usai shalat Asar.
Bahkan setelah menunaikan salat Isya pun, Bisyir belum juga tiba. Ma’ruf tetap bersabar menunggu kedatangan Bisyir, Ia yakin Bisyir tidak mungkin mengkhianati janjinya. Harapan dan kesabaran Ma’ruf tidak sia-sia. Ketika malam semakin larut, ia melihat Bisyir dari kejauhan, tanangannya mengapit sebuah sajadah.
Saat sampai di Sungai Tigris, Bisyir menyebrang sungai itu dengan cara berjalan di atas air. Hal sama dilakukannya ketika hendak pulang saat waktu subuh tiba setelah mereka berbincang sepanjang malam. Seorang sahabat Ma’ruf yang menyaksikan kejadian itu mencoba mengejar Bisyir, kepadanya ia minta didoakan, setelah mendoakan sahabat Ma’ruf sesuai yang dimintanya, Bisyir berpesan agar apa yang dilihatnya itu tidak diceritakan kepada siapapun. Dan orang itu tetap menjaga rahasia tersebut sepanjang masa hidup Bisyir.
Di lain kesempatan Bisyir kedatangan sekelompok orang dari Syiria. Mereka bermaksud mengajaknya menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Namun ajakan itu tidak serta merta dipenuhinya. Kepada tamunya itu Bisyir mengajukan syarat: Pertama, mereka tidak dibolehkan membawa bekal apapun. Kedua, mereka tidak boleh meminta belas kasihan orang lain dalam perjalanan. Ketiga, jika ada orang yang melihat karena iba dan kasihan kepada mereka, mereka tidak diizinkan menerima pemberian itu.
Tawakal kepada Allah
“Pergi tanpa perbekalan dan tidak boleh meminta-minta dapat kami terima, tapi apabila orang lain memberikan sesuatu mengapa tidak boleh menerimanya,” tanya salah seorang dalam rombongan itu.
Mendengar kekhawatiran tersebut, Bisyir pun menjawab, “Sebenarnya diri kalian tidak memasrahkan diri kepada Allah, tapi kepada perbekalan yang kalian bawa.”
Pada saat yang lain datang seorang lelaki datang minta nasihat pada Bisyir, lelaki itu memiliki uang sebanyak 2000 dirham, yang halal dan akan digunakannya untuk melaksanakan haji.
Kepada orang itu Bisyir malah berkata, “Apakah engkau hendak bersenang-senang? Jika engkau benar-benar bermaksud membuat Allah suka, lunasilah hutang seseorang, atau berikan uang itu kepada anak yatim, atau kepada orang yang butuh pertolongan. Kelapangan yang diberikan kepada jiwa seorang muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan ibadah haji.”
Mendengar nasihat itu, laki-laki itu menjawab, “Walau demikian aku lebih suka jika uang ini kupergunakan untuk menunaikan ibadah haji.”
“Itulah bukti, engkau telah memperolehnya dengan cara tidak halal, maka engkau tidak akan merasa senang sebelum menghabiskannya dengan cara-cara yang tidak benar,” kata Bisyir kemudian.
Keanehan dan kealiman Bisyir tidak terlepas dari pengalaman relijius yang pernah dialaminya. Sewaktu muda, Bisyir dikenal sebagai seorang pemabuk. Suatu malam ia berjalan seorang diri dengan sempoyongan karena mabuk minuman keras. Di tengah perjalanan ia menemukan secarik kertas bertuliskan kalimat “Bismillahirramanirrahim”. Antara sadar dan tidak, ia lantas membeli minyak mawar yang dipakainya memerciki kertas itu untuk disimpannya.
Setelah kejadian itu, di suatu malam ada seorang ulama yang bermimpi bahwa ia diperintah Allah agar menemui Bisyir, dengan menyatakan, “Engkau telah mengharumkan namaku, maka Aku pun telah mengharumkan namamu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka aku pun telah menyucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya kuharumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat.”
Namun, karena ia mengenal  Bisyir sebagai sosok pemuda berandal, lelaki itupun langsung melanjutkan tidurnya setelah ia bersuci. Tapi ia menemukan mimpi yang sama hingga tiga kali.
Keesokan harinya ia pergi menemui Bisyir, yang tengah menghadiri pesta minuman keras. Ia ceritakan sebuah pengalaman dan perintah Allah yang mesti dikerjakannya. Sejak itu, atas izin dan perkenan Allah, Bisyir langsung berubah. Namanya tidak lagi disebut dalam pesta anggur, apalagi sampai ia datang ke pesta maksiat itu.
***
Kisah yang lain menyebutkan, Bisyir sempat bertemu Rasulullah SAW dalam tidurnya. Rasulullah mengatakan kepadanya alasan mengapa Allah memilih sebagai hamba yang dimuliakan. Karena dia selalu mengikuti sunah Nabi SAW, memuliakan orang yang saleh, memberi nasihat yang baik kepada saudara-saudaranya, dan mencintai Rasulullah dan keluarganya.
Pada kesempatan lain Bisyir sempat meminta nasihat pada sahabat Ali bin Abi Thalib melalui mimpinya. Sahabat Ali pun memberinya nasehat. “Belas kasihan orang kaya kepada orang miskin, karena berharap pahala dari Allah adalah perbuatan baik. Tapi lebih baik lagi bila orang-orang miskin itu enggan menerima pemberian orang kaya karena percaya kepada kemurahan Allah.”
Begitulah kisah hidup Abu Nashr Bisyir bin Al-Harits Al-Hafi. Meski sempat menjadi brandal dan pemabuk semasa mudanya, hamba Allah yang saleh yang lahir di Kota Merv (Persia) pada 150 H / 767 M ini segera berubah setelah hidayah itu diperolehnya. Ia tinggalkan segala kesenangan di dunia, lalu belajar hadits di Baghdad. Ia meninggal pada 227 H. Karena kesalehannya, Imam Ahmad bin Hambal, pendiri mazhab Hambali, pun ikut menghormati dan mengaguminya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Catatan Popular