Translate

Senarai Blog Saya

Jumaat, 1 Mei 2015

Kisah Bani Israil Yang Dihidupkan Semula

Simbol Kezaliman di Muka Bumi

Allah Ta’ala berfirman :
 أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ (243)
Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedang mereka beribu-ribu jumlahnya kerana takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka,” Matilah anda.” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai kurnia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.  
Surah Al Baqarah ayat 243

Muhammad bin Ishaq menceritakan, dari Wahab bin Munabbih,” Ketika Khalin bin Yofana kembali kepangkuan Ilahi, yaitu setelah Yusya’, maka semua urusan Bani Israil diserahkan kepada Hizqil bin Budzi, yaitu putera Al ‘Ajuz, yang ia telah mendoakan kaumnya yang telah disebutkan Allah di dalam kitabNya.”

Firman Allah Ta’ala “ Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedang mereka beribu-ribu jumlahnya kerana takut mati.”

Ibnu Ishaq mengemukakan ,” Mereka lari dari wabah penyakit thaun, yaitu dengan menuruni dataran rendah, sehingga Allah berkata kepada mereka, ’Matilah anda semua.’ Maka mereka pun mati semua. Lalu mereka dipagari agar tidak dimakan oleh binatang buas.

Setelah beberapa waktu berlalu, Hizqil AS berjalan melewati mereka, lalu ia berdiri berdekatan mereka seraya merenung dan berfikir, kemudian ia diperintahkan memohon agar tulang-tulang itu dilapisi daging dan supaya urat-uratnya disambung kembali. Lalu dengan perintah Allah, ia menyeru mereka sehingga mereka semua bangkit.
Asbath menceritakan, dari Al Sadi, dari Abu Malik, dari Abu Shahih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa orang sahabat, mengenai firman-Nya,” Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedang mereka beribu-ribu jumlahnya kerana takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka,’Matilah anda.’ Kemudian Allah menghidupkan mereka.” Mereka mengatakan, kampung halaman itu bernama Dawardan yang dijangkiti penyakit tha’un.
Kemudian seluruh penduduknya melarikan diri dan singgah di pinggiran daerah tersebut. Maka mereka yang menetap di kampung itu pun mati tetapi banyak juga dari mereka yang selamat. Setelah penyakit tha’un itu lenyap, mereka pun kembali dalam keadaan selamat, maka orang-orang yang tetap tinggal di kampung itu berkata,” Para sahabat kami ini lebih beruntung dari kami. Seandainya kami melakukan seperti yang mereka lakukan, nescaya kami akan tetap hidup. Jika penyakit tha’un merebak yang kedua kalinya, maka kami akan ikut keluar bersama mereka.”
Dalam Tafsir Ibnu Kathir, diceritakan bahwa pada tahun berikutnya, penyakit tha’un itu melanda mereka kembali, maka mereka melarikan diri hingga singgah di lembah Afih. Lalu mereka diseru oleh Malaikat dari bawah lembah dan malaikat lainnya dari atas lembah,” Matilah anda semua.” Mereka pun mati sehingga mereka binasa dan yang tersisa tinggal jasad mereka. Kemudian dilewati oleh seorang Nabi yang bernama Hizqil. Ketika menyaksikan mereka, Hizqil berhenti seraya berfikir tentang mereka itu dan menggerakkan kedua bibir dan jari-jarinya. Lalu Allah SWT mewahyukan kepadanya,” Apakah engkau mahu Aku memperlihatkan kepadamu bagaimana Aku menghidupkan mereka?””Ya,” jawabnya.
Ia memikirkan keajaiban dari kekuasaan Allah SWT atas mereka semua. Kemudian dikatakan kepadanya,” Serulah.” Maka Hizqil pun berseru, “Hai tulang belulang, sesungguhnya Allah menyuruh anda untuk bersatu.” Seketika itu juga tulang belulang itu saling berterbangan saling memadu satu dengan yang lainnya hingga akhirnya menjadi jasad yang masih dalam bentuk tulang. Kemudian Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya agar ia menyeru,” Hai  tulang belulang, sesungguhnya Allah menyuruh anda agar anda mengenakan daging.” Maka tulang belulang itu pun terus berlapiskan daging, berdarah, sekaligus berpakaian. Kemudian dikatakan kepada Hizqil, “Serulah.” Maka ia pun berseru,” Wahai para jasad, sesungguhnya Allah menyuruh anda untuk bangkit.” Maka mereka pun bangkit.
Dari Ibnu Abbas, mereka itu berjumlah empat ribu orang. Masih dari Ibnu Abbas juga, mereka berjumlah delapan ribu orang. Dan dari Abu Shahih, mereka berjumlah sembilan ribu. Dan juga dari Ibnu Abbas, mereka berjumlah 40 ribu orang.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أُمَرَاءُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّباً فِى بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِى مِنْ هَذَا عِلْماً سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا كَانَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ وَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ». قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ ثُمَّ انْصَرَفَ.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Umar bin Khattab ra pernah pergi ke Syam, dan ketika sampai di Saragh, ia ditemui para komandan perang, Abu Ubaidah bin Al Jarah dan para sahabatnya, dimana mereka memberitahukan bahwa penyakit telah merebak di Syam. Lalu disebutkan hadist secara lengkap, iaitu tentang musyawarah yang dilakukannya untuk meminta pendapat kaum Muhajirin dan Anshar, tetapi terjadi perbedaan pendapat tentang hal itu. Kemudian datang Abdur Rahman bin Auf, yang sebelumnya tidak hadir kerana suatu keperluan, dan kemudian berkata,” Sesungguhnya aku mempunyai pengetahuan mengenai masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Jika di suatu daerah terjadi wabak, sedang anda berada didaerah itu maka janganlah anda pergi meninggalkannya. Dan jika anda mendengar wabak itu sedang anda berada di daerah lain, maka janganlah anda mendatanginya.” Maka Umar bin Khattab pun memanjatkan pujian kepada Allah, dan kemudian kembali.
 Hadis riwayat Ahmad

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ أَخْبَرَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَهُوَ يَسِيرُ فِى طَرِيقِ الشَّامِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ هَذَا السَّقَمَ عُذِّبَ بِهِ الأُمَمُ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ »
 Dari Abdullah bin Amr bin Rabiah, bahwa Abdur Rahman bin Auf memberitahukan kepada Umar bin Khattab sedang beliau pada waktu itu tengah berada di Syam, dari Nabi Muhammad SAW, di mana beliau bersabda :  Wabak tersebut pernah ditimpakan sebagai siksaan bagi umat-umat sebelum anda. Jika anda mendengar berita tentang penyakit itu di suatu daerah, maka janganlah anda memasuki daerah itu. Dan jika penyakit itu mewabak di daerah di mana anda berada, maka janganlah anda keluar darinya kerana hendak melarikan diri darinya.” 

Hadis riwayat Ahmad

Muhammad bin Ishaq mengemukakan,” Tidak disebutkan kepada kami, berapa lama Hizqil menetap ditengah-tengah Bani Israil, hingga akhirnya Allah SWT memanggilnya kembali kepangkuan-Nya. Setelah Hizqil wafat, Bani Israil melupakan janji mereka kepada Allah, bahkan mereka menyembah berbagai macam berhala, yang salah satunya bernama Ba’al. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Ilyas bin Yasin bin Fanhas bin Izar bin Harun bin Imrankepada mereka./Musafirlalu

Kredit : Tayibah
Catat Ulasan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Catatan Popular